[Zine] Kibor Nyala #3

Penuntasan janji

Photo by Adrien Olichon on Unsplash

Aku rilis edisi ketiga ini sebagai penutup bagi Kibor Nyala.

Rencanaya ditulis sebagai teks ceramah untuk podcast dekadensiotak.

Akhirnya, aku masukin juga jurnal pengalaman berlariku.

Aku lega bisa menuntaskan janji untuk menerbitkan tiga edisi.

Kini aku bisa move on ke titel berikutnya.

[[[[[ AYO BACA DI SINI !!! ]]]]]

[Zine] Kibor Nyala #2

photo by Justus Menke on Unsplash

Jadi, akhirnya saya rilis zine baru lagi. Digital. Biar ramah lingkungan. Gak deng. Biar gak usah ngeprint aja. Biar enakeun bacanya, saya bikin via gitbook.

Ini zine singkat sekali. Daripada mendem mlulu, yaudah saya paksa terbit di bulan kemaren. Pengennya sih Februari udah terbit. Namun apa mau dikata, kemalasan memintaku untuk selesai di April. Yasudah.

Bertajuk kesendirian. Terinspirasi dari Diogenes sang filsuf gembel.

Mencoba menyapa kalian, heiiii manusia-manusia kurang kerjaan.

Selamat menikmati,

Kibor Nyala #2
Februari – April 2021
6 halaman
gitbook
BACA DARING

10 Album yang Gue Rekomendasiin Untuk Lo Denger Setelah Menyintas 2020

2020 bagi sebagian orang adalah tahun yang berat. Bagi gue? Biasa aja anjeeeeeeeng. Gue hidup di lingkungan yang gak peduli dengan segala masalah yang ada di dunia ini. Protokol apapun adalah formalitas. Fuck conspiracy! Di tempat gue ga ada yang peduli itu. Yang pasti, gue adalah penyintas tahun 2020. Gue gak tau apakah itu keberuntungan atau malapetaka.

Hail Handsanitizer!

Gue melewati 2020 dengan banyak lagu. Hidup gue kayak film yang dikasih soundtrack. Mungkin karena lagu-lagu itu bikin gue senang, imunitas gue jadi perkasa. Jadi, inilah sepuluh album yang gue pilih setelah melewati 2020 yang bisa coba lo dengerin juga. Gue harap lo bakal suka juga. Kalau lo ga suka? Ya udah lah ya, bodo amat.

Greatest Hits // blink-182

Gue sebenernya hampir dengerin blink-182 di semua albumnya. Kalau lagi cari aman untuk nyanyi-nyanyi sendirian, Greatest Hits adalah pilihan yang cucok. Bodo amat sama formasi blink yang sekarang. Bagi gue, trio Tom-Mark-Travis udah paling bener dah. Gatau nih, menurut gue lagu-lagu blink yang sekarang jadi pretentious. Paling kerasa di single Quarantine yang sok punk rock itu.

Transgender Dysphoria Blues // Against Me!

Gak sedikit yang kecewa dengan album ini, karena kok malah nyeritain bencong-bencongan bukan politik-politikan. Tapi bagi gue, album ini brilian. Memang, gue suka sesuatu yang sangat personal, seperti kisah transgender Tom Gable yang berubah jadi Laura Jane Grace. Visi album ini jelas, curhat si Laura aja ini mah. Dari mulai perubahannya jadi transgender, cinta pada kekasih, sampai rindu pada teman yang sudah meninggal.

Jutassic Park III: Satir // JuTa

Permainan diksi bajingan dibalut beat yang bawa suasana taman bermain. Rapper tamu semacam Joemill dan Rand Slam juga cocok mengimbangi permainan kata-kata JuTa. Skit-skitnya nakal sekali.

Demi Masa // Morgue Vanguard & Doyz

Udah. Mau ngomong apa lu ketika dua tuhan berkolaborasi bikin lagu-lagu bagus dalam satu album yang dirilis oleh rumah suci Grimlocc Records. Tema yang dibawa juga asik, nostalgia. Core braggadoccio diselipin line politikal. Untuk urusan rima yang multi-syllable dan sample yang kaya raya, jangan diragukan lagi. MV juga ngeflow di album ini. Dua karakter berbeda, MV dengan kegarangan yang khas dan Doyz dengan alunan flow yang aduhai, bersatu dalam lagu-lagu yang dibalut beat langitan. Erik dan Sarkasz sebagai rapper tamu pun menyuguhi verse yang gak kalah keren. Jangan lupakan karakter Rand Slam yang bawain hook di track Di Hadapan Babylon.

Iowa // Slipknot

Kalau Cimahi punya Jamrud, Iowa punya Slipknot. Hahaha. Band ini senasib sama blink-182. Dianggap kurang metal (blink malah dianggap bukan punk). Bodo amat lah, karena memang People = Shit. Iowa membawa gue balik ke masa SD ketika Fred Durst lagi getol-getolnya dihujat para Maggots.

LOL // Gfriend

Sebuah album peralihan. Masa transisi. Dari konsep yang cute-cute manjah jadi mulai mendewasa. Baru masuk gerbang kedewasaan. Masih dengan musik yang powerful dan vibe vokal yang innocent. Album-album setelah ini makin bagus. Tetap saja, LOL adalah titik tolak kebangkitan Gfriend yang sesungguhnya.

Ras Bebas // Rocket Rockers

Waktu SMP gue liat dua orang temen gue main gitar bawain lagu Bangkit. Itu keren banget pada masanya. Tiba-tiba gue nikmatin lagi album ini. Jadi ngerasa muda lagi aja. Jadi pengen ngeband lagi aja. Lumayan ngobatin luka setelah dengerin single baru mereka yang akapela. Aduh, jadi berasa nasyid.

Let’s Get Free // Dead Prez

Kalu jiwa rebel lagi meronta-ronta tapi males dengerin riff gitar gitu-gitu aja di musik punk rock, album magnum opus dari Dead Prez ini cocok. Dominasi boom bap yang asoy, apalagi instrumental terompet di You’ll Find A Way itu enakeun banget. Lirik seputar diskriminasi kulit hitam di amerika yang diselingi kisah lain seperti bagaimana cara ngentot yang benar di lagu Mind Sex dan cara hidup sehat di lagu Be Healthy.

The Offering // Killah Priest

Karena buku Flip Da Skrip, gue tau ada rapper yang bernama Killah Priest. Lagu Essential yang bikin gue denger seluruh lagu di albumnya. Ini gue kayak nemu wafer di kotak Khong Guan. Memuaskan! Flow santainya gue suka banget.

Best of The Best // Orkes Pensil Alis

Wah anjing udah lah. Jika Hifdzi Khoir dan Mukti Entut bertemu itu sudah merupakan tarikan magnet untuk masuk dunia baru yang absurd parah. Tentunya, rasa itu semua tanpa mengecilkan peran personil yang lain. Jangan banyak mikir. Nikmatin aja dendangan-dendangan takdutnya. Biarkan rangakaian-rangkaian kata aneh masuk ke telinga lo dengan ikhlas. Maka, lo akan mengerti tentang feromon yang bisa memikat lawan jenis, berfilsafat dengan cara bertanya, retrospeksi 90an, mitologi kucing langit, dan betapa pentingnya peran sebuah kipas angin.


Nah, segitu aja dulu. Nanti kalau gue nemu album-album yang asoy lagi, gue bakal share lagi. Lo ga usah protes kenapa ada album K-pop di atas. Karena apa? Karena Eunha adalah definisi kata cantik.

Anugrah

[Book Review] The Punk

The Punk
Cetakan Pertama, 2019
Penulis: Gideon Sams
Penerbit: Immortal Publisher dan Octopus
Halaman: xiv + 98 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia
Penerjemah: Adhe
Awal terbit: 1977 – Corgi Books/Polytantric Press, London
Rating: 8/10


Kayaknya kalau saya nemu buku ini waktu jaman STM dulu, pasti saya sangat bahagia sekali. Pada waktu itu saya memang sedang suka-sukanya sama skena dan kultur punk.

Sekarang saya sudah tua dan pembahasan mengenai punk sudah saya anggap biasa saja, namun itu tidak membuat saya tidak suka punk. Masih ada rasa-rasa punk yang mengalir di pembuluh-pembuluh darah saya. Maka, ketika saya tidak sengaja mendapatkan buku ini dari sebuah toko buku di Bandung, atom-atom punk dalam darah saya masih berdesir.

Buku ini disimpan di ujung rak tempat buku-buku yang tidak laku. Syukurlah saya sabar memandangi punggung buku satu-satu di rak itu. Jika tidak, mungkin saja saya malah menyerah mencari buku “unik” dan malah membeli buku Rhenald Kasali yang tebel-tebel mampus itu.

Buku yang diberi judul The Punk ini murah. Kalau tidak salah, harganya kurang dari 50 ribu rupiah. Masuk akal dengan dimensi yang kecil dan halaman yang tidak banyak.

The Punk adalah sebuah novel yang ditulis oleh anak berusia 12 tahun. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1977 dimana Inggris sedang digoyang skena punk yang bikin banyak orang mual. Gideon, si penulis, membuat novel ini untuk memenuhi tugas sekolahnya. Walaupun ini memang untuk tugas sekolah, bukan berarti Gideon adalah anak yang rajin belajar. Gideon malah suka mabuk dan makan narkoba sambil mendengarjan lagu-lagu Sex Pistols. Meskipun begitu, ternyata novel ini digadang-gadang sebagai novel punk pertama di dunia. Gila gak tuh? Anak umur 12 tahun yang doyan mabok berhasil mencipta novel punk pertama di dunia.

Jika kamu mengasosiasikan kata punk dengan pemberontakan, itu memang sejalan. Namun, jangan harap kamu akan menemukan kisah pemberontakan kelas pekerja melawan sistem kapitalisme bajingan, atau kisah proletar meludahi borjuis, atau kisah global warming anjing, atau kisah pemujaan Karl Marx, atau kisah doktrin kultur punk yang anti-kemapanan. Novel ini bertemakan cinta.

Dikisahkan sang tokoh utama bernama Adolph Spitz yang jatuh cinta pada perempuan yang bernama Thelma – mantan pacar anak Ted (Ted diambil dari kata Teddy Bear, sebuah kelompok masyarakat kelas bawah yang membenci punk). Kisah cinta mereka dihiasi pemberontakan khas anak muda – membentak orang tua, berdandan punk, pergi ke gig musik punk, dan tawuran antar kelompok.

Saya malah memandang novel ini sangat tulus, tidak mengawang menggapai cerita yang jauh. Ini hanya soal cinta-cintaan. Seperti tagline di edisi Bahasa Indonesia ini: Romeo dan Juliet yang berpeniti.

Ini nyaris gak ada perang kelas sama sekali. Anak Punk dan anak Ted sama-sama kelas pekerja. Sangat sedikit deskripsi anti-kemapanan. Mungkin melawan keinginan orang tua bisa masuk deskripsi anti-kemapanan.

Tapi glorifikasinya terasa sekali. Tahun 1977 adalah tahun dimana skena punk lagi edan-edanan menyapu London. Sex Pistols, The Damned, dan The Clash ditulis sebagai pemanis wajib demi menjadikan aura novel ini sah disebut punk. Belum lagi klub malam The Roxy yang legendaris bagi skena punk saat itu. Oh, jangan lupakan perseteruan Jhonny Rotten dan Mick Jagger yang juga dijadikan bumbu yang dituang sedikit tapi sangat berkesan.

Secara keseluruhan, saya suka sama novel ini. Cocok dibaca sambil ngisep lem aibon (Enggak dong, bercanda saya teh. Lem Fox deh boleh). Novel ini begitu tulus, tidak berusaha membagus-baguskan punk. Kasarnya, punk itu sampah ya sampah aja. Memang begitu stereotype-nya kan? Yeuh, aing punk yeuh! Begitu, tidak pretentious.

Untuk kamu para remaja tanggung yang lagi nyari jati diri dengan jadi anak punk, boleh deh ini dibaca. Biar kamu bisa sombong sama teman satu skenamu bahwa kamu pernah baca novel punk pertama di dunia. Jadi referensi kamu tidak hanya bacotan-bacotan JRX SID doang.