8 tahun ngewordpress

8thnWP

Tadi aku nerima notifikasi ini dari WordPress. Anjir, udah 8 tahun. Ini pencapaian yang biasa-biasa aja. Yaeyalah orang aku mah ngeblognya angin-anginan, gak diseriusin. Sibuk main di dunia nyata tea. Anjis.

Jika ada hal yang kupunya dan paling bertahan lama, itu adalah blog ini – yang telah berkali-kali ganti nama, berkali-kali hapus pos, berkali-kali ganti konsep. Moody kayak ABG baru mimpi basah.

Anyway, hatur nuhun WordPress udah ngingetin saya kalau saya pertama kali buat blog di sini itu adalah pada tahun 2010. Waktu itu aku lagi rock n’ roll pisan. Kalau sekarang mah, duh, tiba-tiba jadi rada dewasa. Simple Plan itu memang ngehek waktu di lagu Grow Up.

I don’t want to be told to grow up
And I don’t want to change
I just want to have fun
I don’t want to be told to grow up
And I don’t want to change
So you better give up

Alay pisan anjis. Aku yakin itu Simple Plan sekarang malu baca lirik itu. Hahaha

So, selamat menjalani hidup. Jangan lupa bahagia. Selalu berbakti pada orang tua.

Tabik!,

Anugrah

Iklan

Tentang buku yang tidak kembali

“Hal terbodoh adalah mengembalikan buku” – Gus Dur

Dulu, waktu aku masih kere mampus (sekarang mah udah mendingan). Hal yang paling mudah untuk mendapat buku bacaan adalah dengan meminjam. Waktu jaman sekolah aku ikutan jadi anggota taman bacaan. Nyewa komik dari One Piece sampai komik ecchi Love Hina. Koleksi buku Lupus punya temanku, si Andhesta, juga rajin kupinjam. Buku-buku itu selalu kukembalikan. Kecuali buku-buku dari taman bacaan yang pada akhirnya aku lupa mengembalikan karena entah kenapa lupa dan males-malesan. Pas mau ngembaliin, eh taman bacaannya udah ga ada. Yaudah itu buku sempat jadi koleksiku sampai pada akhirnya kuhibahkan pada suatu perpustakaan edan di kota Bandung. Ga tau tuh itu buku masih ada apa engga. Aku masih inget, buku yang kupinjam itu komik Poor Prince, ada dua atau tiga jilid lah.

Jauh di masa SD dulu, aku pernah maling komik Girls and The Big Man dan Doraemon di Ramayana. Karena mau beli aku gak ada duit. Kawanku menyarankan untuk maling aja di Ramayana. Gampang, katanya. Tinggal diselipkan di balik baju. Satu kali berhasil, dan satu kali gagal (ketahuan sama Aa-Aa, akunya digaplok).

Di masa kuliah sudah mulai lah aku beli-beli buku. Dimulai juga lah itu beberapa kawan minjam buku padaku dan engga balik. Sialan. Filosofi Kopi, Madre, Saman, Udah Putusin Aja!, Zain bin Tsabit, Drunken Series Pidi Baiq, semuanya hilang-hilang. Sialan.

Tapi aku juga pernah punya buku antologi cerpen A.A. Navis yang berjudul Rubuhnya Surau Kami yang ada cap perpustakaan kampus. Aku lupa gimana buku itu bisa ada di kamarku. Dan sekarang gak tau kemana itu buku. Ah dasar memang bukan punyaku kali ya. Jadi itu buku pergi sendiri. Untungnya aku sudah membacanya.

Ah cuman buku doang. Kagak gitu juga men. Kalau aing kaya raya mah gapapa, tinggal beli lagi. Ini berhubung aku bukan manusia kaya raya, dan harus menyisihkan uang dengan demi beli buku dengan pertimbangan ekstra, kehilangan adalah sesuatu yang bikin rada sakit hati. Dan, walaupun aku sudah punya uang, si aku suka males itu beli buku yang udah pernah kubeli.

Mangkanya, sekarang aku suka liat-liat orang kalau mau minjemin buku. Duh, karma tea mereun ya ini teh. Ah tapi da aku ga percaya karma euy. Tapi ya gitu sih. Aku jadinya lebih menghargai buku-buku yang aku beli. Dan harus membeli, biar bisa menghargai. Yang gratisan mah kadang suka seenaknya euy. Kayak PDF-PDF atau audiobook hasil unduhan gratis, disimpen iya, dibaca/didengerin enggak.

Mengapa Aku Membaca

raksbukuhbwline2
Atas nama keamanan yang bersemayam dalam selimut, yang terjaga oleh beton-beton. Demi setiap kutukan yang sengaja dihisap dari batang-batang sigaret. Demi kopi saset murahan yang diberi manis keterlaluan.

Bagiku, masa-masa ternyaman adalah ketika menemukan buku bagus dan larut dalam setiap kata-katanya. Mesti kuakui bahwa aku adalah seorang introvert. Satu teman dalam satu situasi sudah cukup membuatku ramai. Kadang malah terlalu ramai. Itu pula alasan mengapa aku sering menolak untuk karokean atau nonton selepas kerja. Terlalu ramai euy bray. Suka rada-rada ruwet ini kepala kalau liat banyak orang teh. Aku lebih suka sendirian. Maka, membaca adalah salah satu hiburan yang asoy.

Iya, hiburan. Itu intinya mah. Kalaupun aku dapat sesuatu dari hasil bacaanku, itu mah efek samping aja. Coba tengok itu rak bukuku yang mungil dan rada mulai terisi penuh, kebanyakan buku-buku yang lecek sering dibaca itu adalah buku-buku yang kunikmati banget. Ada beberapa buku “berat” yang mendekam, itu karena aku terpengaruh oleh kawan-kawan “sinting” yang senantiasa berbicara tentang nihilisme, marxisme, kapitalisme, posmoderenisme dan isme-isme lalieur lainnya. Buku-buku berat itu bagus, bagi kalian yang ngerti, bagi aku mah.. jangar anjis. Tapi aku pun kadang ingin mau memahami si buku-buku berat bak akademisi aktivis yang keren-keren itu. Lumayan lah buat bunuh waktu dan nambah-nambah referensi untuk nulis biar keliatan gaya.

Juga, membaca buku itu adalah kegiatan yang paling pas untuk mengubah waktu yang sia-sia terbuang dalam kamar mandi ketika aku berak menjadi waktu yang terasa bermanfaat. Sulit rasanya untuk berak tanpa membaca buku. Aku rela nahan berak demi milih-milih dulu buku apa yang bakal dibaca. Aku rela pula berlama-lama walau berak telah selesai demi membereskan bacaanku pada paragraf yang enak untuk berhenti.

Aku bukan pembaca yang rakus tapi cukup rajin. Satu bulan bisa bikin khatam dua buku aja udah alhamdulillah. Mungkin ini juga terpengaruh pada kepribadianku yang memang lambat dalam hal apapun. Naik motor aku itu kuya. Jalan juga kayak siput. Speed reading itu malah bikin mataku siwer. Jadi aku mah bacanya santai-santai aja. Sambil ngudud dan ngopi tea.

Pokoknya mah, duh, membaca teh enakeun. Berasa jadi orang pinter aja gitu. Ya moga-moga jadi pinter beneran.
raksbukuhbwline1