Ngenovel

Hallo blog!

Pengennya mah sih nulis ulasan buku lagi, tapi belum ada buku yang beres dibaca. Tiada Ojek di Paris kubaca lagi secara acak – lompat dari bab ke bab – dan gak selesai. Dua buku Austin Kleon (Steal Like An Artist dan Show Your Work!) juga kubaca lagi secara acak – gak sampai selesai juga. Karena memang aku belum ada buku baru untuk disantap dengan lahap.

Karena bulan kemaren aku gak sempet beli buku, maka bulan ini aku sempatkan main ke toko buku. Biar ada sedikit inspirasi yang nyiprat ke otak. Awalnya, aku pengen beli buku pemrograman demi menunjang keisenganku dalam dunia koding. Tapi ketika aku cukup lama keliling-keliling di section buku komputer, hmmmmm, gak ada yang menarik. Kayaknya semua materi ini bisa didapat di internet. Toh semua buku pemrograman itu rata-rata isinya tutorial. Di Google banyak banget tuh tutorial gratis. Cuman butuh modal niat dan kemauan yang kuat untuk belajar aja.

Ngomong-ngomong ini pertama kali dalam kira-kira 10 tahun terakhir aku mondar-mandir di section buku komputer dengan cukup serius nyari.

Akhirnya aku pergi saja ke area buku-buku novel. Kuambilah bukunya Puthut EA yang berjudul Para Bajingan Yang Menyenangkan, bukunya Hanum dan Rangga yang berjudul I Am Sarahza, dan Cerita dari Digul yang ditulis oleh para eks-Digulis (tahanan politik era Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda yang dibuang ke Digul, Papua Barat).

Kenapa aku ngambil buku-buku itu?

  1. Kebesaran nama Puthut EA
  2. Aku pernah baca 99 Cahaya di Langit Eropa. Itu ceritanya cukup asoy, walau tidak se-dagdigdug The Da Vinci Code.
  3. Sang legenda Pramoedya Ananta Toer yang berperan sebagi editor.

Nyastra lagi deh…

20180807_004445-1.jpg

Iklan

Tentang Ngeblog

“Memiliki wadah akan mendorong kita mengisinya. Kapan saja aku merasa bingung, aku tinggal melongok ke situs web dan bertanya, ‘Ini bisa kuisi apa?'” – Austin Kleon dalam Steal Like an Artist

Sama seperti kutipan Austin di atas, aku mempertahankan blog ini untuk diisi hal-hal yang bisa kuisi ketika keadaan memaksa untuk berbuat sesuatu demi menghindari kerusakan pada jiwa, seperti:

  1. Urusan kerjaan yang mulai monoton
  2. Stuck ketika ngoding untuk anugrah.club
  3. Akhir pekan yang kosong melompong

Blog ini bagai rumah superluas yang menggoda hasrat kebendaan. Yang merayu untuk segera diisi sesuatu: perabot-perabot atau tetek bengek yang sebenarnya tidak penting. Setelah si rumah terisi, bertambahlah level dopamine di otak. Lumayanlah, jadi rada lega sedikit. Sebagaimana manusia yang merasa bernilai setelah melakukan sesuatu dalam hidup.

8 tahun ngewordpress

8thnWP

Tadi aku nerima notifikasi ini dari WordPress. Anjir, udah 8 tahun. Ini pencapaian yang biasa-biasa aja. Yaeyalah orang aku mah ngeblognya angin-anginan, gak diseriusin. Sibuk main di dunia nyata tea. Anjis.

Jika ada hal yang kupunya dan paling bertahan lama, itu adalah blog ini – yang telah berkali-kali ganti nama, berkali-kali hapus pos, berkali-kali ganti konsep. Moody kayak ABG baru mimpi basah.

Anyway, hatur nuhun WordPress udah ngingetin saya kalau saya pertama kali buat blog di sini itu adalah pada tahun 2010. Waktu itu aku lagi rock n’ roll pisan. Kalau sekarang mah, duh, tiba-tiba jadi rada dewasa. Simple Plan itu memang ngehek waktu di lagu Grow Up.

I don’t want to be told to grow up
And I don’t want to change
I just want to have fun
I don’t want to be told to grow up
And I don’t want to change
So you better give up

Alay pisan anjis. Aku yakin itu Simple Plan sekarang malu baca lirik itu. Hahaha

So, selamat menjalani hidup. Jangan lupa bahagia. Selalu berbakti pada orang tua.

Tabik!,

Anugrah