Percakapan Imajiner Bersama Tony Stark Si Manusia Kaleng

1536847616_iron-man-avengers-infinity-war
“Anjing bangsat! Star Lord brengsek!” – Tony Stark yang lagi kesel, sedih, dan gundah. (pic source)

Waktu itu aku sempat ikut kelas programming bahasa pascal di Stark Industries, di jam istirahat makan siang aku liat Mas Tony lagi duduk termenung di salah satu meja kantin. Aku datengin aja, kasian.

Aku: Halo Mas Tony, apa kabar?
Mas Tony: Baik, baik

Aku: Ah mas mukenye datar-datar aje nih kayak papan setrikaan. Mau saya pesenin minum mas?
Mas Tony: Enggak. Udud ada?

Aku: Ada. Emang boleh ngerokok disini?
Mas Tony: Ya gaboleh sih. Tapi kan saya Tony Stark. Bebas.

Aku: Oh iya. Nih.
Mas Tony: Ada koreknya?

Aku: Nih.
Mas Tony: (Ckess). Hmmf hmmf. Ah bangsat, korekmu korek cekes tiga durian. Asem tau.

Aku: Oh iya maaf mas. Saya cuman bawa itu.
Mas Tony: Ayo kamu juga ngudud. Biar ga stress.

Aku: (Ckess). Hmmf. fuuh.. Mas, sekarang lagi sibuk apa?
Mas Tony: Ya gini-gini aja saya mah. Pacaran sama si Pepper. Kadang maen moba.

Aku: Thanos gimana thanos?
Mas Tony: Ah bangsat. Brengsek emang tuh si botak ungu getuk lindri. Gue mau kawin jadi ditunda begini. Padahal bapaknya si Pepper udah nanyain mulu tuh. Eh ngomong-ngomong udud apaan nih? Enak.

Aku: Sampoerna Kretek, mas. Terus kelanjutannya gimana mas itu Thanos?
Mas Tony: Ga tau lah, bodo amat. Susah banget anjis ngalahinnya. Ngontek temen-temen juga pada susah. Bikin grup Whatsapp yang join cuman gue, Natasha, sama Banner.

Aku: Kok gitu mas? Kenapa yang lain gak pada join?
Mas Tony: Hmmf fyuuuh (ngerokok). Ah mereka mah pada gaptek anjir. Si Thor ga tau smartphone itu apaan. Guardian of Galaxy gak familiar sama teknologi bumi. Si Wanda lagi galau, japrian gue juga cuman di read doang. Si Steve mah anjing ngeselin, susah ngajarinnya. Udah diajarin berkali-kali tetep aja ga masuk-masuk. Dikit-dikit “Ton, ton, ini kalau mau ngetik pencet mana?”, “ini kalau mau ini gimana”, “kok ini gini sih?”. Ah anjing dasar tua bangka.

Aku: Udah baikan sama kapten, mas?
Mas Tony: Iya udah. Mau gimana lagi. Thanos ancaman yang serius. Gue jadi inget si Peter.

Aku: Peter Quill?
Mas Tony: Bukan, anjing. Peter Parker lah. Spiderman. Si Quill mah bangsat anjis.

Aku: Kenapa gitu mas?
Mas Tony: Ya anjing lu udah nonton Infinity War belum? Kalau bukan karena si Quill, kita udah menang itu. Ngehek, cewek warna ijo aja dibela-belain, kayaknya dia sering
nonton hentai ya. Harusnya dia tuh yang pantes muruluk jadi abu, bukannya Spiderman. Sedih saya.

Aku: Iya sih mas, di Homecoming dia keren tuh.
Mas Tony: Ya walaupun dia masih muda dia berbakat sih. Gue rencananya mau jadiin temennya yang gendut itu Spiderman. Gue lagi nyiapin kostumnya. Iron Spider Mark II.

Aku: Serius mas?
Mas Tony: iya beneran. Kan lucu kalau Spidermannya gendut. Tapi gatau tuh dia mau apa enggak. Minta rokok lagi dong.

Aku: Nih. Wuih mas kuat ngerokoknya ya. Kereta api.
Mas Tony: yah namanya juga lagi depresi. Daripada coli.

Aku: Mas suka coli?
Mas Tony: Semenjak ketemu bibinya Peter. MILF banget itu.

Aku: Bibi May yang nenek-nenek itu mas?
Mas Tony
: Bukan film-film Spiderman yang lama, bangsaaaaat.

Aku: Oh. Homecoming.
Mas Tony: Iya itu.

Aku: Kasian Pepper.
Mas Tony: Dicoliin maksutnya.

Kriiiiinggg…

Aku: Wah mas udah bel masuk kelas nih. Aku ijin pamit ya.
Mas Tony: Iya-iya. Makasih ya ududnya.

Aku: Sama-sama

 

Iklan

Ngenovel

Hallo blog!

Pengennya mah sih nulis ulasan buku lagi, tapi belum ada buku yang beres dibaca. Tiada Ojek di Paris kubaca lagi secara acak – lompat dari bab ke bab – dan gak selesai. Dua buku Austin Kleon (Steal Like An Artist dan Show Your Work!) juga kubaca lagi secara acak – gak sampai selesai juga. Karena memang aku belum ada buku baru untuk disantap dengan lahap.

Karena bulan kemaren aku gak sempet beli buku, maka bulan ini aku sempatkan main ke toko buku. Biar ada sedikit inspirasi yang nyiprat ke otak. Awalnya, aku pengen beli buku pemrograman demi menunjang keisenganku dalam dunia koding. Tapi ketika aku cukup lama keliling-keliling di section buku komputer, hmmmmm, gak ada yang menarik. Kayaknya semua materi ini bisa didapat di internet. Toh semua buku pemrograman itu rata-rata isinya tutorial. Di Google banyak banget tuh tutorial gratis. Cuman butuh modal niat dan kemauan yang kuat untuk belajar aja.

Ngomong-ngomong ini pertama kali dalam kira-kira 10 tahun terakhir aku mondar-mandir di section buku komputer dengan cukup serius nyari.

Akhirnya aku pergi saja ke area buku-buku novel. Kuambilah bukunya Puthut EA yang berjudul Para Bajingan Yang Menyenangkan, bukunya Hanum dan Rangga yang berjudul I Am Sarahza, dan Cerita dari Digul yang ditulis oleh para eks-Digulis (tahanan politik era Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda yang dibuang ke Digul, Papua Barat).

Kenapa aku ngambil buku-buku itu?

  1. Kebesaran nama Puthut EA
  2. Aku pernah baca 99 Cahaya di Langit Eropa. Itu ceritanya cukup asoy, walau tidak se-dagdigdug The Da Vinci Code.
  3. Sang legenda Pramoedya Ananta Toer yang berperan sebagi editor.

Nyastra lagi deh…

20180807_004445-1.jpg

Tentang Ngeblog

“Memiliki wadah akan mendorong kita mengisinya. Kapan saja aku merasa bingung, aku tinggal melongok ke situs web dan bertanya, ‘Ini bisa kuisi apa?'” – Austin Kleon dalam Steal Like an Artist

Sama seperti kutipan Austin di atas, aku mempertahankan blog ini untuk diisi hal-hal yang bisa kuisi ketika keadaan memaksa untuk berbuat sesuatu demi menghindari kerusakan pada jiwa, seperti:

  1. Urusan kerjaan yang mulai monoton
  2. Stuck ketika ngoding untuk anugrah.club
  3. Akhir pekan yang kosong melompong

Blog ini bagai rumah superluas yang menggoda hasrat kebendaan. Yang merayu untuk segera diisi sesuatu: perabot-perabot atau tetek bengek yang sebenarnya tidak penting. Setelah si rumah terisi, bertambahlah level dopamine di otak. Lumayanlah, jadi rada lega sedikit. Sebagaimana manusia yang merasa bernilai setelah melakukan sesuatu dalam hidup.