[Book Review] Things & Thoughts I Drew When I Was Bored (Naela Ali, 2017)

36182598
Credit: goodreads

Things & Thoughts I Drew When I Was Bored
Cetakan Pertama, Agustus 2017
Artbook
Penulis: Naela Ali
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (POP)
Bahasa: Inggris
Halaman: vii + 153 halaman
Dimensi: 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-424-419-4
Harga: Rp 119.000,-
Rating: 8.5/10

“Inspiration is actually all around you and all you have to do is feel”

Ketika itu di toko buku, saya ingin mengambil satu buku lagi untuk kubawa ke kasir. Karena bingung mau beli buku apa, saya mendatangi rak best seller dengan harapan buku random yang akan saya beli mempunyai kualitas yang bagus.

Yang pertama terlihat pastilah covernya ya, Judulnya unik, ada gambar cherry nya, ada smiley nya. Hardcover. Dimensi bukunya juga besar. Pas saya buka lembar per lembar ternyata isinya cuman gambar sama kutipan doang. Pas saya liat nama penulisnya, gak kenal. Pas saya liat label harganya, anjisss, mahal. Buku gini doang mahal?! Yaudah saya beli untuk mencari tahu apakah isinya pantas dengan harganya.

Nyampe di rumah saya gak langsung baca buku ini, tapi baca buku lain yang kubeli bersamaan dengan buku ini. Bukunya Desi Anwar yang berjudul Hidup Sederhana. Karena saya mikirnya buku si Naela Ali ini mah buku santey pisan lah. Sekali duduk juga khatam.

Eh, ternyata pas saya mulai baca bukunya, gak sekali duduk tuh. Lumayan berhari-hari. Malah saya sering diam memandangi satu halaman dan bergumam: wah keren gini. Walaupun isinya cuman gambar sama kutipan-kutipan doang.

salah satu bagian yang saya suka
Salah satu bagian yang saya suka.

Aku memang terkagum-kagum sama mereka yang bisa menggambar. Kayaknya kalau reinkarnasi ada nih, aku ingin lahir kembali sebagai orang yang jago gambar.

Karena aku gak jago gambar, maka kunilai gambar-gambar Naela yang kayaknya dibikin pake cat air ini bagus-bagus. Bisaan anjis. Lalu, gambar-gambar itu teh seakan dipadukan dengan kutipan-kutipan yang senada sama gambarnya. Meskipun gak semua gambar sama kutipannya itu nyambung. Si Naela juga sudah ngasih disclaimer tentang itu di bab Hello! – kata pengantar lah ya.

Oh ternyata buku beginian teh namanya artbook. Baru tahu nih saya setelah baca di sampulnya.

Nah, artbook ini emang udah pas nyeritain gimana sukanya si Naela sama kesendirian. Introvert-introvert gitu. Stereotype seniman lah ya. Tapi saya yakin ini bukan gimmick doang men. Soalnya, bagi saya, curhatan-curhatan si Naela melalui gambar dan kutipan-kutipannya itu relevan sama saya yang juga suka sendirian. Semoga aja saya bukan lagi ngerasain Barnum Effect. Soalnya saya ngerasa kalau si Naela ini jujur dalam pembuatan buku ini. Artworknya pake tangan, bahkan sebagian besar kutipannya pun saya rasa dia bener-bener nulis pake tangan. Ngefake ketika berkarya itu susah men.

Konten buku ini menurut saya mah curhatan-curhatan si Naela aja sih. Tentang bagaimana dia mandang dunia lalu dituangkan dalam bentuk ilustrasi juga kutipan singkat. Dari mulai tentang kesendirian, kesukaannya pada buku dan musik, kekasih, sampai eksistentsi kedirian.

Dengan adanya ilustrasi yang keren, curhat-curhat si Naela juga jadi berkesan keren. Saya yakin bakal beda rasanya kalau si Naela cuman curhat biasa di sosmed.

Oiya, ada bonus stiker-stiker cantiknya juga. Lumayanlah buat ditempel di notebook.

Kurangnya buku ini apa ya? Harganya kali ya? Mahal anjay. Seratus rebu teh mahal buat saya mah. Tapi kalau diliat dari jildnya yang hardcover, halaman-halamannya full color, kertas yang dipakai juga tebel, isinya yang keren pisan, maka terjawablah sudah pembuktian saya tentang kepantasan harga bagi buku ini. Ya, pantas.

Buku ini cocok buat manusia-manusia yang suka sama seni, ilustrasi-ilustrasi gitu. Buat manusia-manusia introvert seperti saya karena menurut saya buku ini bisa mewakili perasaan orang-orang yang suka sendirian.

P.S. Ternyata Naela Ali pernah nulis dua buku sebelum ini: Stories for Rainy Days Vol I dan Stories for Rainy Days Vol II. Apabila tiba-tiba saya nemu dua buku itu, saya bakalan baca.
N.B. Eh ternyata dia bikin buku Stories for Rainy Days III juga

 

Iklan

[Zine] dekadensiotak Vol. 3

Aku suka menghapus pos-pos lamaku, tapi suka sayang untuk membuangnya. Begitu juga yang terjadi di sekarang. Aku memindahkan lagi beberapa pos ke zine ini. Dipadukan dengan beberapa konten baru yang diracik menggunakan Adobe InDesign CC 2015 – tidak bisa yang lebih muda, notebook ku terlalu ringkih.

Setelah lama berkutat secara primitif dengan Microsoft Word dan teknik gunting-tempel, aku merasa bosan. Dengan dalih ingin bikin layout sekeren majalah-majalah komersil, aku mencari software apa yang bisa kupelajari. Lalu, Google memberikan InDesign sebagai jawaban.

Pun, aku mencari juga aplikasi online yang bisa melayout dan akhirnya kupakai untuk membuat cover. Sayang aku lupa apa itu nama domainnya.

Hasilnya, ya lumayan lah …

dekadensiotak vol 3-01

Hidup memang perlu disiasati. Agar menjadi enak untuk menjalaninya. Ngomong doang emang gampang. Aku tahu. Tapi ini adalah secuil dari ikhtiarku dalam menyiasati hidup. Sayang jika aku hanya diam saja, leyeh-leyeh. Meski, berleyeh-leyeh pun juga diperlukan sewaktu-waktu.

Penyusunan zine ini menjadi teman setia dikala mode nokturnal sedang tiba-tiba aktif, dikala kopi creamy latte malu-malu untuk diseruput. Penguras kecewa ketika Think Like a A Freak ternyata tidak cukup bagus.

[Zine]
dekadensiotak vol. 3
Juni 2018
16 halaman
PDF

Isi:
[Kolase] Saat-saat terakhir
[Catatan] Terluang
[Catatan] Masalah Terbesar
[Kolase] Happiness comes from your own actions
[Catatan] Komedi
[Komik Asoy #2] Balada Udud Benn Beckman
[Songs, Movies, and Book Recomendations]
[Outro]

DOWNLOAD
READ ONLINE

[Zine] Bengkel Kolase #3 (Revised Ed.)

Kuperbaharui tampilan Bengkel Kolase #3 yang sempat terbit di September 2015, agar lebih enakeun bacanya. Karena udah mah tulisan tangan saya itu buruk, ditambah hasil digitalisasi yang buruk pula malah bikin mata ruwet. Jadinya saya revisi biar rada ciamik kayak skripsi yang siap dikumpulin ke perpustakaan kampus.

“Sepertinya, 90% pembuatan Bengkel Kolase adalah spontanitas ide-ide yang begitu saja muncul meloncat dari kepalaku. Tanpa draft, tanpa rancangan awal. Maka jadilah sebuah tubrukan ide selayak bigbang yang menjadikan alam semesta ada.

Jika memang seperti itu, maka ada sebuah harapan yang bisa kuraih: sebuah keindahan dari kekacauan yang terjadi. Namun, sebagai manusia yang menyukai segala sesuatu yang instan, ada kekhawatiran dalam pemahaman harapan ini: kapan keindahan itu datang?”

01

[Zine]
Bengkel Kolase #3
Awal terbit, September 2015
Revised, Juni 2018
Tulis tangan
Cut and paste
12 halaman

DOWNLOAD
READ ONLINE