[Book Review] What I Talk About When I Talk About Running (Haruki Murakami)

20180716_140944

Diterjemahkan dari Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto. Terbitan Bungeishunju Ltd., Japan, 2007

Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Ellnovianty Nine Syarif & A. Fitriyani
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
Bahasa: Indonesia
Halaman: vi + 198 halaman
Cetakan Pertama, April 2016
Cetakan Kedua, Mei 2016
Harga: Rp. 49.000,-
Rating: 8/10


Ini kali kedua aku membaca buku ini, sebelumnya aku pernah membacanya di tahun 2016. Tahun di mana aku membeli buku ini. Berhubung bulan sekarang aku belum sempat membeli buku (karena gak ada duit), aku memutuskan untuk membaca kembali buku-buku yang sudah kupunya. Niatya sih biar aku lebih ngerti lagi isi bukunya. Karena mungkin, sekarang aku udah lebih pintar dan dewasa daripada aku yang dulu. Mungkin ya.. karena aku selalu gak yakin dengan isi kepalaku.

Buku ini adalah memoar tentang kebiasaan lari si penulis yang seorang novelis. Iya! Ini buku tentang lari. Bukan tentang bagaimana menimbulkan motivasi agar bisa lari pagi supaya sehat, bukan juga tentang teknik-teknik berlari untuk ikut lomba lari. Ini hanya tentang lari. Tentang berlari yang dilakukan rutin setiap hari. Yang membuat Haruki menemukan arti mendalam dari aktivitas yang namanya lari.

Karena ini hanya buku tentang pengalaman Haruki berlari maka sebagian besar isi buku ini adalah hal-hal yang terbesit di kepala Haruki saat dia berlari, apa dan siapa yang dia temui pada saat berlari, dan bagaimana rasanya ikut lari maraton dan triatlon yang (kata aku mah) sungguh menyiksa itu.

Banyak hal-hal menarik yang dapat diambil dari memoar ini, apalagi ketika Haruki berhasil berhenti merokok karena berlari tiap hari. Sungguh determinasi yang edan pisan. Juga, dia sering dapat ide menulis novel ketika dia sedang berlari. Ini sungguh cocok buat kamu mahasiswa-mahasiswa sastra yang doyan ngebul samsu sambil baca puisi di kampus. Karena sungguh, Haruki Murakami yang sehat itu jauh lebih keren dari maneh-maneh.

Haruki jelas tidak berusaha untuk menggurui karena tidak mentah-mentah ngasih tips berlari atau menulis dengan gamblang. Dia justru seperti bapak bijaksana yang telah banyak nemu falsafah kehidupan dari apa yang dia lakukan. Jadi, pembaca seperti diajak ngobrol dengan santai. Masalah apakah ada pesan moral untuk diambil atau tidak, itu urusan pembaca dengan kejeliannya masing-masing.

Kalau boleh aku menyimpulkan, ini tentang determinasi dan memperjuangkan apa yang disuka dalam hidup. Tentang ikhlas. Dan tentu saja, tentang berlari.

“Aku selalu melakukan apa pun yang kuinginkan dalam hidup ini … Siapa orang yang bisa berhadapan dan menuntut sesuatu kepada manusia seperti itu?”

Iklan

[Book Review] Hidup Sederhana

Sampul depan "Hidup Sederhana"

 

“Belajarlah dari kegagalan dan kemudian cobalah lagi, tetapi jangan larut dalam perasaan kecewa”

Desi Anwar yang saya tahu itu adalah penyiar berita di RCTI. Sewaktu saya kecil saya suka liat dia di tivi, walaupun saya gak ngerti dia ngomong apa. Toh itu karena aku masih kecil tea. Yang aku tahu, Desi itu kalau ngomong bibirnya susah mangap macam Ariel Noah lagi nyanyi.

Setelah saya melahap kisah hidup dan pemikiran Haruki Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running yang ditulis sendiri semacam otobiografi, saya jadi rada ketagihan buat baca kisah hidup orang. Ya, katanya kan memang orang itu tertarik pada orang lagi. Aku sekarang sedang tertarik akan hal itu. Kurang lebih begitu alasanku membeli buku Hidup Sederhana.

Seperti yang ditulis pada sampul belakang, buku ini adalah kumpulan tulisan Desi Anwar tentang perenungan dan pengamatannya akan hidup.

Dari buku ini saya bisa lebih mengenal Desi lebih dalam karena memang semua tulisannya ini berdasarkan apa yang dia alami. Maka, sering dia bercerita tentang pengalamannya dari masa kecil sampai dewasa sebagai sumber dari perenungannya. Tema-tema yang diangkat pun tidak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari seperti tentang beristirahat setelah bekerja, pertemanan, cinta kasih, serta kedirian.

Dari semua tema-tema yang diangkat, Desi mampu meraciknya dengan sederhana dan itu membuatku tahu bahwa ternyata Desi Anwar itu bisa nulis. Dia pandai memilih diksi sehingga apa yang dia ceritakan mudah dicerna. Maka, di halaman-halaman awal aku menikmati sekali proses membaca buku ini. Apalagi ketika dia bercerita di bab Meditasi. Ada persamaan yang kutemukan tentang apa yang di bahas di bab itu. Karena aku sebelumnya pernah mendengar ceramah Aa Gym tentang kebaikan yang terkandung dalam empat hal menurut Sahl bin Abdillah*: lapar (puasa), diam, menyendiri, dan bangung malam (tahajud). Semua aku temukan juga pada pengalaman Desi belajar meditasi di sebuah vihara. Sampai bab itu pun aku sudah bisa sedikit menyimpulkan bahwa konsep yang ingin ditawarkan dari hidup sederhana ini adalah sebuah ketenangan.

Lagi-lagi yang membuat buku ini nyaman dibaca adalah pembahasan yang tidak terlalu mendalam tetapi Desi jeli dalam melihat sesuatu. Sebagai contoh, pada bab Sahabat, Desi menjelaskan mengapa orang lebih nyaman dengan sahabatnya daripada dengan anggota keluarganya. Menurutnya, persahabatan itu lahir dari cinta yang tulus tanpa ikatan apapun, tetapi dengan anggota keluarga ada ikatan yang tak bisa terelakkan yaitu pertalian darah. Dan banyak hal-hal menarik lain yang bisa ditemukan dari buku ini, yang bisa bikin pembaca tersadar bahwa diri terkoneksi dengan keadaan sekitar.

Tapi nih ya, ini masalah selera sih. Aku agak bosan ketika di tengah-tengah buku. Mungkin karena pembahasannya sudah umum dan banyak dibahas di buku-buku self-help. Selain itu paragraf yang sengaja dicetak tebal dan di-stablo-in, bagiku tidak selalu merupakan bagian yang penting / menarik. Sering aku menemukan sendiri bagian menarik versi diriku sendiri di luar paragraf-paragraf yang dicetak tebal itu.

Penutup buku ini adalah bab yang paling kusuka, Carpe Diem. Aku memang selalu suka pembahasan tentang penguasaan hari. Dan Desi bisa mengeksekusinya dengan baik.

Jadi intinya, aku baca buku ini bagai naik roller coaster, naik turun gitu kayak dinamika kehidupan. Ini cocok sih buat kamu yang mau nyoba masuk ke buku-buku filsafat. Anggap saja ini sebagai for dummies bagi buku-buku filsafat yang njelimet itu.

Ciao,


Hidup Sederhana
Penulis: Desi Anwar
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 288 halaman
ISBN: 978-602-03-0620-9
Cetakan pertama, July 2014
Cetakan kelima, Maret 2017
Harga: Rp 98.000,-
Rating: 7/10

[Book Review] Things & Thoughts I Drew When I Was Bored (Naela Ali, 2017)

36182598
Credit: goodreads

Things & Thoughts I Drew When I Was Bored
Cetakan Pertama, Agustus 2017
Artbook
Penulis: Naela Ali
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (POP)
Bahasa: Inggris
Halaman: vii + 153 halaman
Dimensi: 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-424-419-4
Harga: Rp 119.000,-
Rating: 8.5/10

“Inspiration is actually all around you and all you have to do is feel”

Ketika itu di toko buku, saya ingin mengambil satu buku lagi untuk kubawa ke kasir. Karena bingung mau beli buku apa, saya mendatangi rak best seller dengan harapan buku random yang akan saya beli mempunyai kualitas yang bagus.

Yang pertama terlihat pastilah covernya ya, Judulnya unik, ada gambar cherry nya, ada smiley nya. Hardcover. Dimensi bukunya juga besar. Pas saya buka lembar per lembar ternyata isinya cuman gambar sama kutipan doang. Pas saya liat nama penulisnya, gak kenal. Pas saya liat label harganya, anjisss, mahal. Buku gini doang mahal?! Yaudah saya beli untuk mencari tahu apakah isinya pantas dengan harganya.

Nyampe di rumah saya gak langsung baca buku ini, tapi baca buku lain yang kubeli bersamaan dengan buku ini. Bukunya Desi Anwar yang berjudul Hidup Sederhana. Karena saya mikirnya buku si Naela Ali ini mah buku santey pisan lah. Sekali duduk juga khatam.

Eh, ternyata pas saya mulai baca bukunya, gak sekali duduk tuh. Lumayan berhari-hari. Malah saya sering diam memandangi satu halaman dan bergumam: wah keren gini. Walaupun isinya cuman gambar sama kutipan-kutipan doang.

salah satu bagian yang saya suka
Salah satu bagian yang saya suka.

Aku memang terkagum-kagum sama mereka yang bisa menggambar. Kayaknya kalau reinkarnasi ada nih, aku ingin lahir kembali sebagai orang yang jago gambar.

Karena aku gak jago gambar, maka kunilai gambar-gambar Naela yang kayaknya dibikin pake cat air ini bagus-bagus. Bisaan anjis. Lalu, gambar-gambar itu teh seakan dipadukan dengan kutipan-kutipan yang senada sama gambarnya. Meskipun gak semua gambar sama kutipannya itu nyambung. Si Naela juga sudah ngasih disclaimer tentang itu di bab Hello! – kata pengantar lah ya.

Oh ternyata buku beginian teh namanya artbook. Baru tahu nih saya setelah baca di sampulnya.

Nah, artbook ini emang udah pas nyeritain gimana sukanya si Naela sama kesendirian. Introvert-introvert gitu. Stereotype seniman lah ya. Tapi saya yakin ini bukan gimmick doang men. Soalnya, bagi saya, curhatan-curhatan si Naela melalui gambar dan kutipan-kutipannya itu relevan sama saya yang juga suka sendirian. Semoga aja saya bukan lagi ngerasain Barnum Effect. Soalnya saya ngerasa kalau si Naela ini jujur dalam pembuatan buku ini. Artworknya pake tangan, bahkan sebagian besar kutipannya pun saya rasa dia bener-bener nulis pake tangan. Ngefake ketika berkarya itu susah men.

Konten buku ini menurut saya mah curhatan-curhatan si Naela aja sih. Tentang bagaimana dia mandang dunia lalu dituangkan dalam bentuk ilustrasi juga kutipan singkat. Dari mulai tentang kesendirian, kesukaannya pada buku dan musik, kekasih, sampai eksistentsi kedirian.

Dengan adanya ilustrasi yang keren, curhat-curhat si Naela juga jadi berkesan keren. Saya yakin bakal beda rasanya kalau si Naela cuman curhat biasa di sosmed.

Oiya, ada bonus stiker-stiker cantiknya juga. Lumayanlah buat ditempel di notebook.

Kurangnya buku ini apa ya? Harganya kali ya? Mahal anjay. Seratus rebu teh mahal buat saya mah. Tapi kalau diliat dari jildnya yang hardcover, halaman-halamannya full color, kertas yang dipakai juga tebel, isinya yang keren pisan, maka terjawablah sudah pembuktian saya tentang kepantasan harga bagi buku ini. Ya, pantas.

Buku ini cocok buat manusia-manusia yang suka sama seni, ilustrasi-ilustrasi gitu. Buat manusia-manusia introvert seperti saya karena menurut saya buku ini bisa mewakili perasaan orang-orang yang suka sendirian.

P.S. Ternyata Naela Ali pernah nulis dua buku sebelum ini: Stories for Rainy Days Vol I dan Stories for Rainy Days Vol II. Apabila tiba-tiba saya nemu dua buku itu, saya bakalan baca.
N.B. Eh ternyata dia bikin buku Stories for Rainy Days III juga