Urban: Cerita Mentega | Bodor sunda yang aduh ajig bodor

WhatsApp Image 2019-11-06 at 19.42.15
Aslina! Maca Urban bari udud sampurna kretek ngeunah pisan.

Urban: Cerita Mentega
Cetakan Pertama, Juni 2019
Penulis: Trio Urban (Ronny, Wanda, Elmi) dan Anggia Bonyta
Penerbit: The Panasdalam Publishing
Halaman: 181 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia
Rating: 7/10

” ‘Low profile lebih baik daripada low budget’ #kataelmi” – hal. 17

Saya emang udah niat mau beli buku yang ringan. Otak saya capek kalau baca buku yang berat-berat teh. Memang lemah saya teh ya. Makanya pas denger bahwa ada buku yang Tike Pritanakusumah ngasih endorse bahwa trio yang nulis buku ini teh orang-orang bodor, sudah kurencanakan akan kubeli nanti kalau udah gajian.

Sebenernya saya gak tahu siapa itu Trio Urban. Yang saya tahu cuman si Wanda Urban aja yang suka nongol di Ngobat-nya Budi Dalton. Tapi karena kata Tike ini bagus, kata Pandji Pragiwaksono juga bagus, ya kemakan lah saya sama omongan mereka-mereka ini. Mudah dihasut ya ternyata saya ini. Tapi seenggaknya saya punya kambing hitam kalau nanti ternyata buku ini gak bagus.

Katanya, mereka bertiga ini teh penyiar di I-Radio Bandung. Aduh, saya mah bukan pendengar radio. Udah lama saya gak dengerin radio. Soalnya radio sekarang mah kebanyakan lagu, kurang porsi bacot penyiarnya. Terus lagu-lagunya teh jarang yang saya suka. Teu ngareunaheun lah intina mah. Makanya saya lebih suka dengerin podcast aja yang puguh-puguh ngebacot. Kalau mau denger lagu mah mending Spotify weh puguh bisa milih lagu.

Gapaplah, yang penting mah isi bukunya saya harap bisa menghibur.

Alhamdulillah nya teh euy. Bagus. Bodor. Asli ieu mah. Terkahir saya ngakak baca buku teh pas baca “Mau Jadi Apa?”-nya Soleh Solihun. Ternyata buku ini gak kalah lah sama bukunya Soleh. Ringan, renyah, dan nyunda. Sebenernya mah harus ngerti basa sunda kalau mau dapet bodornya secara pol. Soalnya, banyak juga kalimat yang ga ada terjemahannya dan banyak bodoran-bodoran khas urang sunda.

Terus ya, kan buku ini teh ditulis sama tiga orang. Per artikel gitu. Kadang suka ga ditulis di awal siapa penulisnya teh. Kan aing jadi lieur, saha ieu teh nu nyarita? Tapi nanti ada da di dalem artikelnya bahwa siapa yang lagi cerita.

Buku ini teh semacam rekam jejak perjalanan Trio Urban. Dari kisah-kisah konyol masing-masing personil, bagaimana mereka bertiga akhirnya bertemu, ikutan Akademi Pelawak Indonesia 2, sampai tetap siaran sampe sekarang di I-Radio Bandung.

Cocoklah buku ini mah dibaca di waktu senggang saat kamu lagi suntuk, lagi rudet karena kerjaan, atau sehari setelah ditinggal mantan kawin. Gak tau siapa itu Trio Urban juga gak masalah. Tetep lucu. Sekali duduk tamat. Recomended lah. Daripada baca Noam Chomsky, lieur ajig! Mending maca ieu, bisa seuri ngeunaheun.

Desain sampul nya unik kayak bungkus margarin Blue Band lengkap dengan logo halalnya. Dicocokin lah sama judul bukunya Urban: Cerita Mentega. Yang ngedesainnya teh Yoga PHB yang biasa bikin parodi desain logo-logo band atau musisi. Unik sih mantap lah saya suka.

Terus, di buku ini juga saya baru tau kalau ternyata The Panasdalam teh punya publishing euy. Wah edan kieu euy kerajaan Pidi Baiq

[Book Review] Flip Da Skrip

20190815_234057

Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan Rap Nerd Selama Satu Dekade
Copyleft (ɔ) Herry Sutresna, 2018

Penulis: Herry Sutresna
Penerbit: Elevation Books
Bahasa: Indonesia
Halaman: 240 halaman + sisipan
Harga: Rp. 120.000,-
Rating: 8 / 10


“Musik bisa membuat seseorang berbuat bodoh tanpa batas” – hal. 10

Tahun lalu buku ini terbit, bulan lalu saya baru membacanya. Setelah asoy dengerin single Kontra Muerta dan album Demi Masa di Spotify, saya jadi penasaran sama buku ini yang merangkum catatan sepuluh tahun sang penulis tentang album-album Hip-Hop yang menurutnya bagus. Herry Sutresna yang biasa dikenal sebagai Ucok dan ketika menggenggam mic dia memakai moniker Morgue Vanguard, adalah seorang rapper dari grup Hip-Hop yang telah menyatakn bubar pada tahun 2007, Homicide.

Kalau kamu sudah sering dengar lagu-lagu yang Ucok terlibat di dalamnya, kalian pasti sadar betapa mewah dan kayanya lagu itu. Dari mulai beat yang tidak biasa, pemilihan sample, dan lirik yang sangat prosa langitan. Buku ini mungkin, bisa sedikit menjawab dari mana saja pengaruh yang Ucok dapat ketika membuat lagu-lagunya. Catatan sepuluh tahun, Ucok konsisten dengerin rilisan-rilisan Hip-hop dan bikin daftar mana saja yang menurut dia bagus. Edan teu tah? Jelas terlihat passionate sekali tah si Ucok teh terhadap Hip-hop. Maka jangan heran kalau lagu-lagunya dia teh edan-edan, da referensinya juga banyak pisan. Tidak generik pula, karena yang didengerin bukan yang ngambang di mainstream doang semacam Eminem dan Kendrick Lamar, melainkan jauh menembus ke dalam tanah semacam Ka, begitulah kira-kira apa yang saya dapet setelah baca bukunya.

I’m not a Hip-Hop head, tapi aing suka dengerin hip-hop. Jadi, buku ini teh aing pakai sebagai referensi lagu hip-hop mana lagi nih yang aing mesti denger. Soalnya, aing sudah suka lagu Homicide, harusnya, ada dong yang aing suka juga dari apa yang personil Homicide suka. Seperti saya yang jadi dengerin album Fear Of A Black Planet dari Public Enemy karena Ucok udah ngebahasnya di gutterspit.com yang merupakan blog personalnya. Dan dari situ aing jadi digging lebih dalam lalu aing kenalan sama Ice Cube, Rakim, dan tentu saja Tupac Shakur. Apalagi aing lebih seneng dengerin old school yang lebih lirikal semacam Rakim dari pada new school hip-hop yang kumur-kumur kayak Lil Pump. Selera sih ya itu mah. Suka-suka

Seperti suka-sukanya Elevation Books yang selalu ngebungkus paketannya pake apapun suka-suka dia. Waktu pertama kali belanja di Elevation, saya beli bukunya Herry Sutresna juga yang Setelah Boombox Usai Menyalak, bukunya dateng dengan dibungkus majalah bekas yang kece juga sebenernya itu gambar dari majalahnya. Nah, untuk yang Flip Da Skrip ini dibungkus pake plastik Uniqlo, goblok gak tuh anjing? Terus dibungkus lagi pake poster promosi kaset Homicide untuk album Godzkilla Necronometry, lumayanlah buat ditempel di kamar.

Ok, kita kesampingkan aja masalah perbungkusan itu. Dan saya bahas bukunya. Dengan bahasan yang suka-suka aing juga.

Ini buku yang arogan bagi saya yang suka dengerin Hiphop sebatas Iwa K, kadang dengerin Saykoji atau Pandji (aduh anjing kenapa aing malu ya? Apa karena kata Dethu si Pandji itu Sucker MC?). Intinya mah aing memang suka dengerin hiphop yang di permukaan, jadi mencerna apa yang direkomendasikan Ucok ini rada pe-er sih. (Aing sampe sekarang gak ngerti siah gimana mencerna lagu-lagu Ka yang musiknya gak ada beatnya itu dan ngerapnya kayak monolog aja gitu)

Kearoganan buku ini terletak dari bagaimana Herry Sutresna aka Ucok (selanjutnya aing bakal pake nama Ucok aja lah ya, lebih enakeun), merefleksikan sisi personalnya tentang album-album apa aja yang dia anggap bagus. Pembahasannya juga mendalam. Banyak sisi teknikal rap yang dia bahas, seperti: flow, cadence, beat, multisyllable dan lain-lain yang mungkin bagi awam bakal gak ngerti kalau engga googling dulu.

Sisi personalnya itu lah yang aing suka. Subjektivitasnya kental sekali. “Bahaya”nya bagi awam kayak gue ini adalah lo bakal mudah untuk mengamini apa yang dia sebut bagus mengingat dia itu memang God di kancah hiphop underground endonesa ini. Tapi kembali lagi ke masalah selera sih. Kadang ada yang emang menurut gue juga enakeun semacam lagu Essential nya Killah Priest atau White Nigger nya Ill Bill. Oiya aing gak dengerin satu album full. Alhamdulillahnya si Ucok ini suka ngasih rekomendasi lagu apa aja yang pantas didenger untuk first listener. Kadang ditambah juga snippet lirik yang menurut dia asoy (seringnya sih kalau rimanya bagus). Thanks to the internet. Hari ini gampang banget nyari album. Spotify siap membantu walau ada juga sih yang ga ada. Kalau masalah lirik, genius.com siap diandalkan.

Gue jadi ngerti kenapa album Nas yang Illmatic adalah magnum opus. Ucok sering jadiin album itu pembanding bagi rapper-rapper muda yang ngeluarin album bagus. Aing juga ngerti kenapa Eminem itu lirikalnya bagus, ini juga sering dijadiin pembanding buat rapper-rapper yang lirikalnya bagus juga. Meski, kalau Ucok ngebahas Eminem mah aing suka rada sakit hati karena memang di rentang 2007 – 2017 gak ada album Em yang dianggap bagus. Aing rada senyum ketika ada album Eminem yang sama Ucok hanya dimasukin honorable mentions untuk album Mashall Matters 2. Ternyata idola aing satu ini gak bener-bener mati. Rakim juga sering disebut-sebut sebagai orang yang merubah tatanan dunia ngerap.

Jujur aing rada-rada bosen baca ulasan-ulasan album dari musisi yang aing gak kenal sama sekali. Untungnya saja, Ucok juga nyelipin tulisan-tulisannya yang berhubungan dengan Hip-hop. Dari mulai sejarah hiphop yang dimulai dari sebuah pesta taman di New York, rilisan-rilisan fisik era awal, tutupnya toko Fat Beats yang punya peran penting bagi penualan album fisik, penjarahan yang malah menyebarluaskan hiphop, pengalamannya “manggung” sama Public Enemy di Jakarta, kekecewaannya pada beberapa rapper yang menurut dia berubah jadi buruk (anying Ice Cube disebut memburuk euy, padahal aing masih suka dengerin Gangsta Rap Made Me Do It dan It Was A Good Day), hingga obituari bagi penggiat hiphop yang sudah meninggal. Itu semua teh ya jadi semacam informasi yang asik karena, lagi-lagi, dibawakan secara personal. Jadi gak kaku kayak lagi baca majalah.

Buku ini juga ngerubah pandangan saya tentang orang-orang yang saya kira ngerapnya itu ga bagus semacam RZA yang saya cuman tau dia di lagu Carry It nya Travis Barker bersama Raekwon dan Tom Morello. Apalagi saya memandang si eta teh konyol di film absurd yang dia sutradai sekaligus jadi aktornya juga, The Man with the Iron Fists. Jadi keliatan keren siah di buku ini mah. Begitu juga dengan Method Man yang terakhir saya liat di video klipnya CL yang Lifted (ternyata CL teh biting liriknya Method Man), dan di film komedi bersama Kevin Hart yang berjudul Soul Plane. Ternyata dia teh keren ajig! gak sekonyol yang aing kira.

Cocok siah buku ini mah bagi para rapper buat nambah referensi lagu-lagu hiphop bagus ala Morgue Vanguard. Gak heran sih Homicide, Bars of Death dan album Demi Masa yang digarap sama Doyz itu bagus-bagus. Dengerin albumnya aja banyak pisan si Ucok teh.

Tapi tetep, balik lagi ke selera akhirnya mah. Da ada aja yang kata saya mah gak enakeun. Aing masih gak ngerti sama lagu-lagunya Ka. Sok aja dengerin. Gak nyampe buat aing mah euy.

Akhirnya aing nobatkan Killah Priest jadi masuk jajaran rapper kesukaan saya bersama Eminem, Rakim, Ice Cube dan Dead Prez (M-1 dan stic.man).

Buku-buku yang terbaca secara rock n’ roll di tahun 2018

Halo, internet!

Di tahun 2018 kemarin saya ikutan 2018 Reading Challenge di Goodreads. Gak muluk-muluk lah, 12 buku doang. Satu buku satu bulan. Begitu targetnya mah, gampang aja. Dan ternyata, alhamdulillah, saya berhasil menamatkan 16 buku. Melebihi target dong. Maka, patutlah saya berbangga diri atas keberhasilan saya melampaui target saya sendiri.

16buku

Sekarang saya mau review buku-buku yang terbaca tahun kemaren itu. Semacam yutub rewind lah. Ini mah sebut saja reading rewind dengan review yang sok-sokan, atau malah lebih ke ngaco sih. Bodo amat lah! Blog-blog gue ini. Juga, saya kasih rekomendasi minuman yang bisa menemani kamu membaca masing-masing buku.

***

1. The Grand Design (Stephen Hawking)

Gak ngerti anjis. Tapi ini buku saya bacanya sampe tamat. Ini buku saya dapet dari Togamas. Waktu itu bukunya tinggal satu dengan kondisi udah ga diplastikin dan sampul serta halamannya sudah keriting. Tapi karena saya penasaran sama tulisannya Hawking, yasudah saya beli aja. Eh, ternyata kagak ngarti. Tapi ini buku menarik sih, seinget saya sih gitu. Ada informasi baru yang bisa saya dapet walaupun pada akhirnya saya gak inget

Minuman yang cocok untuk menemani membaca buku ini: bensin

2, 3. Melawan Arus (Aditya Rahman Yani), Aku (Pernah) Punk (Aditya Rahman Yani)

Lu baca di sini dah. Males gue nulis hal yang sama. Pokoknya ye, dua buku ini cocok untuk anak punk yang hijrah sebelum pergi ke Hijrah Fest.

Minuman: Bintang Zero (Inget! 0% alkohol ya)

4. Ziarah (Iwan Simatupang)

Kukira cerita absurd itu ditulis Samuel Beckett dan yang bajingan itu ditulis Eka Kurniawan. Ternyata Iwan Simatupang bisa melakukan keduanya sekaligus. Tema dark dan jenaka dipadukan apik. Enggak dark comedy, tapi cukup bikin bibir senyum simpul. Aku rasa Iwan sungguh meleburkan pemikirannya pada novel ini yang kemudian terwakili pada tiap-tiap tokohnya. Setiap tokoh seakan terjalin manis satu sama lain. Adonannya pas.

(ini gue copy-paste dari zine dekadensiotak vol. 2)

Minuman: Jus bunga mawar

5. No Tulen: Tidak Asli Tapi Hamba Allah (Maman Suherman)

Kang Maman Botax bercerita tentang pengalaman hidupnya yang sebenernya mah biasa sih, tapi dia menyerap sari kebijaksanaan dari setiap pengalamannya itu. Lumayan lah buat dinasihatin dengan cara yang lebih rasa “temen” daripada dinasihatin sama Mario Bros, eh, Mario Teguh.

Minuman: Kopi sachet 2000an cukup lah

6, 7. Aroma Karsa (Dee Lestari), The Crossroads of Should and Must: Find and Follow Your Passion (Elle Luna)

Dua buku ini keren banget dah. Yang suka fiksi, lo bisa baca Aroma Karsa. Dee Lestari loh ya. Jaminan mutu. Kalau lo orang yang lagi pusying dalam memilih jalan hidup antara keharusan dan keinginan, lo bisa coba baca yang Crossroads. Udah gue bahas juga di blog ini. Sila klik di sini untuk Aroma Karsa, dan klik di sini untuk yang Crossroads.

Minuman: Parfum KW boleh lah dicicipin, susu

8. Do (Handoko Hendroyono)

Ga seru anjis! Isinya gambar-gambar doang sama kutipan-kutipan. Ngebahas branding sih. Tapi cuman gitu doang anjis. Sekali duduk tamat lah. Impact ke gue nya ga ada. Mungkin ini masalah selera. Iya, gue ga berselera baca buku ini. Tapi tamat juga bacanya.

Minuman: Kopikap (tau gak lo? itu minuman kopi yang serebuan. Yang ga ada rasanya gitu. Kemasannya kayak teh gelas lah)

9, 10, 11, 12, 13, 14. Things & Thoughts I Drew When I Was Bored (Naela Ali), Hidup Sederhana (Desi Anwar), What I Talk About When I Talk About Running (Haruki Murakami), Para Bajingan Yang Menyenangkan (Puthut EA), I Am Sarahza (Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra), Jalan Hidayah Yana Umar (Tasdiqia Team)

Anjeeeng, gue ngerekap sebanyak ini??? Demi kalian keberlangsungan kehidupan blog gue yang udah mulai ogah-ogahan update. Gue mencoba nulis walaupun rada males juga sih anjeng. Tapi ego ini meyuruhku untuk bikin tulisan ini. Biarlah hasilnya gak karu-karuan. Jadinya rekapannya gini, kagak ada rekap-rekapnya. Nih gue kasih link-nya aja. Udah pernah gue tulis soalnya. Baydewey, gue kemaren-kemaren rajin nulis juga ya.

Sesuai urutan lah ya: di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, dan di sini

Minuman: Kopi-kopi syantik di cafe-cafe necis sambil dengerin lagu-lagu indie yang mengalun-ngalun sepoi-sepoi asoy, aer sungai, akua, anggur merah orang tua, aer ketuban, kuah kolek pisang.

15. Hit Refresh (Satya Nadella)

Gue beli buku ini waktu gue lagi asoy-asoynya ngoding. Pengen beli buku yang berbau informatika gitu. Karena buku tutorial mah gak rame, dan kalau nyari tutorial mah sebenernya gampang tinggal googling. Ternyata eh ternyata, ini buku bisa dibilang lumayan. Nyeritain visi misi si Satya pas jadi CEO Microsoft sekarang. Ngomongin AI, Quantum Computing dan hal-hal yang rasa-rasanya hanya ada di fiksi ilmiah. Juga dengan tidak melupakan wejangan warisan sang founding father Bill Gates tentang empati yang menjadikan Microsoft sebesar sekarang, Windows dipake sampe ke seluruh penjuru dunia dengan bajakan yang mudah didapat.

Minuman: oralit

16. Ego is The Enemy (Ryan Holiday)

Ini bagus nih buat kita-kita yang pengin dapet suntikan motivasi yang lebih elegan dibanding motivasi-motivasi yang dikasih motivator kacangan brengsek yang sering ada di acara kampus. Tentang gimana cara-cara menghadapi ego yang seringkali mengendalikan seseorang dikala bermimpi, sukses, dan gagal. Dihadirkan pula kisah-kisah lumayan asoy dari para tokoh yang kadangkala ga terkenal-terkenal amat sih kalau lo biasanya cuman nongton tivi doang di rumah.

Minuman: kopi dingin sisa semalam

***

Udah, gitu aja. Sampe jumpa tahun depan

anugrah_s year in books goodreads (1)