[Book Review] Para Bajingan Yang Menyenangkan | Benar-benar novel mBajingaaaaan!

20180812_124140

Para Bajingan Yang Menyenangkan
Cetakan Pertama, Desember 2016
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Buku Mojok
Bahasa: Bahasa Indonesia, Basa Jawa
Halaman: 178 halaman
ISBN: 9786021318447
Harga: Rp 58.000,-
Rating: 10/10


“Mbut, Jembuuuut!”

“Don’t judge a book by its cover” itu basi! Aku membeli buku ini dengan 100% menilai covernya. Sinopsis di sampul belakangnya aja gak saya baca pada waktu itu.

Komposisi gambar komik yang nyentrik, nama Puthut EA, judul yang mBajingan, dan logo MOJOK di kanan atas, udah cukup bagi otak saya untuk dengan cepat menyimpulkan bahwa tidak akan rugi bila buku ini saya beli. Padahal, saya belum pernah sekali pun baca karya-karyanya Puthut EA, cuman pernah denger namanya doang, itu pun langka banget. Jadi, buku ini adalah perkenalan saya dengan karyanya Puthut EA. Pun, ini pertama kali aku baca buku dari penerbit Buku Mojok.

Biasanya, bagi saya, perkenalan pertama itu menentukan apakah saya akan beli lagi karya lain si penulis atau tidak. Contohnya waktu pertama kali baca bukunya Dee yang Supernova: Akar, saya langsung jatuh cinta dan akhirnya sebagian besar karya Dee saya beli. Sepertinya karyanya Puthut EA pun akan begitu. Di Minggu pagi ketika saya tamat membaca buku ini, saya bakal ngasih rating maksimum.

Novel ini menceritakan tentang nostalgia hubungan persahabatan enam orang mahasiswa UGM penggemar judi. Mereka adalah Puthut, Almarhum Jadek, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe. Bajingan memang. Kalau dibilang asu ya asu kehidupan mereka ini. Apalagi hidupnya Almarhum dan si Bagor yang memang porsi ceritanya lebih besar daripada yang lain. Puthut juga sering muncul, tapi dia kan narator, sudut pandangnya pun dari dia. Jadi Puthut ini ibaratnya Watson dalam Sherlock Holmes.

Di awal, sebelum masuk cerita pun, maneh udah diajak guyon dengan memplesetkan Dead Poets Society menjadi Jackpot Society. Kebetulan saya suka film Dead Poet Society, jadinya ya bajingan aja gitu konyolnya teh.

Pertama masuk ke cerita, sudah disuguhi konflik yang lumayan bajingan tentang Almarhum dan si Puthut. Mulailah otot-otot senyum saya bergerak, dan sumpah, sang penulis sungguh konsisten dalam membawa jenaka pada alur cerita yang maju-mundur seenaknya. Tak jarang pula si penulis lompat dari cerita karakter satu ke karakter yang lain dengan tetap jenaka dan gak ngganjel untuk terus diikuti. Jadi, pembaca serasa ngegosip gitu sama si narator, gosipin temen-temen si narator gitu. Pokoknya gitu lah rasanya. Wuenak pol, kaya gosip. Sialan. Jembut!

Penggunaan Basa Jawa yang banyak muncul pada dialog bikin aku baca novel pake logat jawa yang medok-medok gitu. Tenang, kalaupun gak ngerti, penulis udah nyiapin kamus di bagian belakang. Ini mirip 1984-nya George Orwell yang ada kamus bahasa Newspeak-nya. Bedanya, kalau ini basa jawa asli ada di dunia, Newspeak kan fiksi.

Guyonan-guyonannya pun bagi saya selalu berhasil. Saya bahagia sekali baca buku ini dari awal sampai akhir.

Kadang suka agak dark comedy juga sih. Ngeguyonin agama atau polemik orde baru menjelang 98 yang memang si penulis bisa bikin itu semua jadi lucu, menurutku. Asal pikiranmu terbuka, komedi gelap ini memang layak untuk dinikmati kok.

Novel ini kuat di karakter sih. Plotnya itu, menurutku ya, gak terlalu penting. Meskipun, plot itu harus ada. Ya kalau ga ada plot bukan cerita namanya. Tapi tetep asik kok. Ini mah kayak memoar aja gitu. Kalau novel ini ternyata diangkat dari kisah nyata, wuiiiih, wuedan pol. Salut saya sama penulisnya yang punya hidup berwarna dan bisa didokumentasikan dengan jenaka.

Kamu pasti pernah kan denger cerita temanmu yang konyol dari temanmu yang lain? Nah kayak gitu rasanya.

Seriusan! Ini asik loh dibaca di waktu luang ketika kerjaan udah selesai dan mau bergembira dengan membaca novel, atau waktu di toilet sambil boker pun ok.

Salam hormat dariku wahai Jackpot Society!

Iklan

[Book Review] What I Talk About When I Talk About Running (Haruki Murakami)

20180716_140944

Diterjemahkan dari Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto. Terbitan Bungeishunju Ltd., Japan, 2007

Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Ellnovianty Nine Syarif & A. Fitriyani
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
Bahasa: Indonesia
Halaman: vi + 198 halaman
Cetakan Pertama, April 2016
Cetakan Kedua, Mei 2016
Harga: Rp. 49.000,-
Rating: 8/10


Ini kali kedua aku membaca buku ini, sebelumnya aku pernah membacanya di tahun 2016. Tahun di mana aku membeli buku ini. Berhubung bulan sekarang aku belum sempat membeli buku (karena gak ada duit), aku memutuskan untuk membaca kembali buku-buku yang sudah kupunya. Niatya sih biar aku lebih ngerti lagi isi bukunya. Karena mungkin, sekarang aku udah lebih pintar dan dewasa daripada aku yang dulu. Mungkin ya.. karena aku selalu gak yakin dengan isi kepalaku.

Buku ini adalah memoar tentang kebiasaan lari si penulis yang seorang novelis. Iya! Ini buku tentang lari. Bukan tentang bagaimana menimbulkan motivasi agar bisa lari pagi supaya sehat, bukan juga tentang teknik-teknik berlari untuk ikut lomba lari. Ini hanya tentang lari. Tentang berlari yang dilakukan rutin setiap hari. Yang membuat Haruki menemukan arti mendalam dari aktivitas yang namanya lari.

Karena ini hanya buku tentang pengalaman Haruki berlari maka sebagian besar isi buku ini adalah hal-hal yang terbesit di kepala Haruki saat dia berlari, apa dan siapa yang dia temui pada saat berlari, dan bagaimana rasanya ikut lari maraton dan triatlon yang (kata aku mah) sungguh menyiksa itu.

Banyak hal-hal menarik yang dapat diambil dari memoar ini, apalagi ketika Haruki berhasil berhenti merokok karena berlari tiap hari. Sungguh determinasi yang edan pisan. Juga, dia sering dapat ide menulis novel ketika dia sedang berlari. Ini sungguh cocok buat kamu mahasiswa-mahasiswa sastra yang doyan ngebul samsu sambil baca puisi di kampus. Karena sungguh, Haruki Murakami yang sehat itu jauh lebih keren dari maneh-maneh.

Haruki jelas tidak berusaha untuk menggurui karena tidak mentah-mentah ngasih tips berlari atau menulis dengan gamblang. Dia justru seperti bapak bijaksana yang telah banyak nemu falsafah kehidupan dari apa yang dia lakukan. Jadi, pembaca seperti diajak ngobrol dengan santai. Masalah apakah ada pesan moral untuk diambil atau tidak, itu urusan pembaca dengan kejeliannya masing-masing.

Kalau boleh aku menyimpulkan, ini tentang determinasi dan memperjuangkan apa yang disuka dalam hidup. Tentang ikhlas. Dan tentu saja, tentang berlari.

“Aku selalu melakukan apa pun yang kuinginkan dalam hidup ini … Siapa orang yang bisa berhadapan dan menuntut sesuatu kepada manusia seperti itu?”

[Book Review] Hidup Sederhana

Sampul depan "Hidup Sederhana"

 

“Belajarlah dari kegagalan dan kemudian cobalah lagi, tetapi jangan larut dalam perasaan kecewa”

Desi Anwar yang saya tahu itu adalah penyiar berita di RCTI. Sewaktu saya kecil saya suka liat dia di tivi, walaupun saya gak ngerti dia ngomong apa. Toh itu karena aku masih kecil tea. Yang aku tahu, Desi itu kalau ngomong bibirnya susah mangap macam Ariel Noah lagi nyanyi.

Setelah saya melahap kisah hidup dan pemikiran Haruki Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running yang ditulis sendiri semacam otobiografi, saya jadi rada ketagihan buat baca kisah hidup orang. Ya, katanya kan memang orang itu tertarik pada orang lagi. Aku sekarang sedang tertarik akan hal itu. Kurang lebih begitu alasanku membeli buku Hidup Sederhana.

Seperti yang ditulis pada sampul belakang, buku ini adalah kumpulan tulisan Desi Anwar tentang perenungan dan pengamatannya akan hidup.

Dari buku ini saya bisa lebih mengenal Desi lebih dalam karena memang semua tulisannya ini berdasarkan apa yang dia alami. Maka, sering dia bercerita tentang pengalamannya dari masa kecil sampai dewasa sebagai sumber dari perenungannya. Tema-tema yang diangkat pun tidak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari seperti tentang beristirahat setelah bekerja, pertemanan, cinta kasih, serta kedirian.

Dari semua tema-tema yang diangkat, Desi mampu meraciknya dengan sederhana dan itu membuatku tahu bahwa ternyata Desi Anwar itu bisa nulis. Dia pandai memilih diksi sehingga apa yang dia ceritakan mudah dicerna. Maka, di halaman-halaman awal aku menikmati sekali proses membaca buku ini. Apalagi ketika dia bercerita di bab Meditasi. Ada persamaan yang kutemukan tentang apa yang di bahas di bab itu. Karena aku sebelumnya pernah mendengar ceramah Aa Gym tentang kebaikan yang terkandung dalam empat hal menurut Sahl bin Abdillah*: lapar (puasa), diam, menyendiri, dan bangung malam (tahajud). Semua aku temukan juga pada pengalaman Desi belajar meditasi di sebuah vihara. Sampai bab itu pun aku sudah bisa sedikit menyimpulkan bahwa konsep yang ingin ditawarkan dari hidup sederhana ini adalah sebuah ketenangan.

Lagi-lagi yang membuat buku ini nyaman dibaca adalah pembahasan yang tidak terlalu mendalam tetapi Desi jeli dalam melihat sesuatu. Sebagai contoh, pada bab Sahabat, Desi menjelaskan mengapa orang lebih nyaman dengan sahabatnya daripada dengan anggota keluarganya. Menurutnya, persahabatan itu lahir dari cinta yang tulus tanpa ikatan apapun, tetapi dengan anggota keluarga ada ikatan yang tak bisa terelakkan yaitu pertalian darah. Dan banyak hal-hal menarik lain yang bisa ditemukan dari buku ini, yang bisa bikin pembaca tersadar bahwa diri terkoneksi dengan keadaan sekitar.

Tapi nih ya, ini masalah selera sih. Aku agak bosan ketika di tengah-tengah buku. Mungkin karena pembahasannya sudah umum dan banyak dibahas di buku-buku self-help. Selain itu paragraf yang sengaja dicetak tebal dan di-stablo-in, bagiku tidak selalu merupakan bagian yang penting / menarik. Sering aku menemukan sendiri bagian menarik versi diriku sendiri di luar paragraf-paragraf yang dicetak tebal itu.

Penutup buku ini adalah bab yang paling kusuka, Carpe Diem. Aku memang selalu suka pembahasan tentang penguasaan hari. Dan Desi bisa mengeksekusinya dengan baik.

Jadi intinya, aku baca buku ini bagai naik roller coaster, naik turun gitu kayak dinamika kehidupan. Ini cocok sih buat kamu yang mau nyoba masuk ke buku-buku filsafat. Anggap saja ini sebagai for dummies bagi buku-buku filsafat yang njelimet itu.

Ciao,


Hidup Sederhana
Penulis: Desi Anwar
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 288 halaman
ISBN: 978-602-03-0620-9
Cetakan pertama, July 2014
Cetakan kelima, Maret 2017
Harga: Rp 98.000,-
Rating: 7/10