[Movie Review] Captain Fantastic (Viggo Mortensen, 2016)

Adikku baru pulang nonton Despicable Me 3, temanku nonton Spiderman: Homecoming. Aku yang kere mampus gak sanggup ke bioskop, makanya aku donlot ilegal saja film rekomendasi kawan lama: Captain Fantastic. Tahun 2016 film itu dirilis. Sepertinya tidak ada di bioskop endonesa manapun. Maklum, kapten yang satu ini gak sepopuler kapten amerikah. Walaupun sama-sama bergelar kapten, kapten fantasitc jauh beda dari kapten amerikah. Selain jauh dari populer, jauh dari kekerenan Chris Evans, jauh juga dari film aksi tonjok-tonjokan nan penuh efek grafis. Ini mah film drama. Tapi ga segeli drama koreah. Pengambilan gambarnya mah bagus loh.

captain_fantastic_ver2_xlg

Captain Fantastic mencoba mengkritik kehidupan sosial, terutama kehidupan di kota. Sebenernya aku pernah nonton juga film yang beginian (hidup di hutan dan meninggalkan peradaban modern), dalam film Into The Wild. Bedanya, film si kapten ini hidup di hutannya sekeluarga sedangkan Into the Wild seorang diri. Jadi film ini menarik untuk memperlihatkan gimana caranya bertahan hidup dalam situasi komunitas, dalam hal ini keluarga tentunya.

Spoiler alert, baby!

Ben (si kapten) bersama istrinya memutuskan untuk membeli lahan di hutan untuk mereka tinggali. Bersama keenam anaknya mereka tinggal dalam hutan dengan bus sekolah tua sebagai rumahnya. Hingga pada suatu masa, sang istri (Leslie) menderita bipolar disorder dan harus dirawat. Ben otomatis menjadi single-parent dan mengurus keenam anak mereka sendirian. Tentu saja, Ben mengurus dan mengajarkan banyak hal pada anak-anaknya dengan cara-cara yang tidak umum. Anak-anak Ben tidak ada yang sekolah, mereka belajar mandiri dengan membaca buku-buku tebal. Bahkan Bo (si sulung) bisa enam bahasa dan diterima masuk ke semua universitas Ivy League, kalau dia mau. Aspek lain yang dipelajari adalah latihan fisik, bela diri, dan bertahan hidup di rimba raya. Overall keluarga ini amazing sekali. Karena mereka pintar-pintar dan kuat-kuat. Bahkan si Zaja yang baru delapan tahun sudah bisa menjelaskan United States Bill of Rights dengan bahasanya sendiri. Jelas pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa menjadi pintar gak perlu pake sekolah-sekolahan, belajar mah bisa dimana aja. Di hutan juga bisa, asal ada kemauan. Selain itu, peran orang tua sebagai pembimbing pun begitu penting. Ben senantiasa berburu, memanjat tebing tinggi, dan mendiskusikan buku bersama anak-anaknya.

Sebagaimana sebuah cerita yang baik menurut teori sastra, harus ada konflik biar jadi menarik. Konflik pertama bermula ketika Ben mendapat kabar bahwa Leslie meninggal dunia karena bunuh diri. Keluarganya menganggap Ben, sang suami, sebagai penyebab dari kematian Leslie. Keluarga Leslie yang “normal” dan sangat berkecukupan memang menilai Ben sebagai hippie yang mempengaruhi kejiwaan Leslie, mereka pun khawatir akan masa depan anak-anak Ben.

Ben membaca surat wasiat istrinya yang berisi bahwa dia ingin dikremasi karena menganut budhisme, ingin kematiannya dirayakan dengan nyanyian dan tarian, serta abunya dibuang ke toilet yang berada di kota. Sebuah kritik sosial dimana Leslie tidak memilih untuk mati dengan cara biasa. Memandang mati bukan dengan tangisan, karena mati adalah hal lumrah bagi semua manusia. Maka, rayakanlah kematian sebagaimana hidup harus dirayakan, toh mati adalah bagian dari kehidupan juga. Jika lahir adalah awal dari hidup, maka mati adalah akhirnya. Begitu kan?

Tentu saja, Ben yang ingin mewujudkan wasiat sang istri mendapat penolakan dari pihak mertuanya. Wong ini anak-anak gue, ya gimana gue dong. Lu mah bikin anak gue jadi hippie. Ya udah, pada awalnya Ben nyerah sama keadaan toh katanya, di dunia ini ada pertempuran yang ga bisa dimenangkan. Tapi anak-anaknya bersikeras ingin mewujudkan wasiat sang ibu. Ya udah, luluh lah hati si Ben. Maka dibuatlah Mission: Rescue Mom. Ben yang memang hidupnya tak “normal” ini mengajak anak-anaknya untuk datang ke acara kematian Leslie. Lengkap dengan outfit yang nyentrik khas streotip hippie (warna-warni, untaian bunga di kepala). Jika ada persamaan antara kapten amerikah dan kapten pantastik adalah pakaian mereka yang konyol.

Dan bergeraklah mereka ke kota dengan mengendarai bus sekolah tua.

Si Ben teh ingin ngajarin anak-anaknya hidup tidak seperti orang-orang di kota dengan segala keteraturan yang seakan mengekang manusia, seperti: sekolah (ga perlu sekolah men, belajar mah dimana aja), pakaian (kalem weh atuh baju mah, da kita ini mah masuk dalam kingdom animalia), makanan (makanan mah dari alam atuh, kalau makanan pabrikan mah bisa bikin ga sehat dan gendut). Semua itu terlihat dalam scene-scene seperti: anaknya heran liat orang-orang gendut di kota; terus pas mau makan di rumah makan eh kok menunya ga ada yang actual food ya?; mau berburu juga binatangnya diem aja, gak seru! (yaeyalah diem, da itu mah binatang ternak); terus pernah juga si Ben telanjang bulet sambil ngopi di lawang panto busnya dan diliat pasangan nenek-kakek yang liwat terus dia bilang “kalem we atuh euy da ini mah cuman titit, semua pria juga punya”

Pada awalnya, ide jadi hippie (aku pake kata ini aja ya biar gampang lah ya) itu terlihat keren tapi pada akhirnya dengan segala kejadian pada saat Mission: Rescue Mom di kota, banyak hal yang bikin Ben dan anak-anaknya (terutama si Bo) jadi mikir ulang tentang kehidupan mereka.

Bo bilang “Aku tahu segalanya kecuali dunia luar”. Bo memang kuat fisiknya, otaknya pinter, tapi cemen di depan cewek. Terus hasrat dia ingin kuliah juga ada. Ini wajarlah bagi orang yang terus belajar untuk tahu lebih jauh dari sekedar apa yang dibaca, dan dari sekedar hanya satu guru saja (bapaknya, Ben). Ben ini memang bapak-bapak pisan kalau kata aku mah. Rada-rada bedegong di balik ide-ide anarkistiknya. Masa anaknya yang masih kecil itu, si Rellian, disuruh debat dulu kalau mau ngerayain natal? Mending ngerayain hari ulang tahun Noam Chomsky, katanya. Soalnya Chomsky mah is a real person, sedangkan natal mah ngerayain orang dalam fairy tale alias piksi. Kalau memang mau bebas ya bebas aja atuh Ben. Mungkin Ben pikir ini mah masalah keluarga jadi debat dulu, kalau semuanya okey, ya semua ikut. Tapi ga bisa gitu atuh euy, da Ben, sia mah kolot nu loba pengalaman jang ngabobodo (mempengaruhi) budak leutik. Jadi bisa otoriter.

Akhirnya yah, akhir filmnya sungguh bikin aku senang. Aku ingin yang kayak gini terjadi. Aku sudah menduganya di tengah film. Ini pasti ada twist yang bikin mereka berubah.

Ok, akhirnya keluarga Ben menyelesaikan Mission: Rescue Mom. Bo memang ga jadi kuliah dan malah pergi ke Namibia. Kenapa Namibia? Dia pilih random aja. Akhrinya dia punya kesempatan belajar di tempat lain. Keluarga Ben juga udah engga tinggal di hutan lagi. Mereka tinggal di desa dengan rumah sungguhan, beternak, dan bertani. Sudah makan sereal juga. Dan anak-anaknya disekolahkan di sekolah beneran. Damn! Dunia nyata ya yang nyata-nyata aja. Utopia mah antara ada dan tiada.

Iklan