Buku-buku yang terbaca secara rock n’ roll di tahun 2018

Halo, internet!

Di tahun 2018 kemarin saya ikutan 2018 Reading Challenge di Goodreads. Gak muluk-muluk lah, 12 buku doang. Satu buku satu bulan. Begitu targetnya mah, gampang aja. Dan ternyata, alhamdulillah, saya berhasil menamatkan 16 buku. Melebihi target dong. Maka, patutlah saya berbangga diri atas keberhasilan saya melampaui target saya sendiri.

16buku

Sekarang saya mau review buku-buku yang terbaca tahun kemaren itu. Semacam yutub rewind lah. Ini mah sebut saja reading rewind dengan review yang sok-sokan, atau malah lebih ke ngaco sih. Bodo amat lah! Blog-blog gue ini. Juga, saya kasih rekomendasi minuman yang bisa menemani kamu membaca masing-masing buku.

***

1. The Grand Design (Stephen Hawking)

Gak ngerti anjis. Tapi ini buku saya bacanya sampe tamat. Ini buku saya dapet dari Togamas. Waktu itu bukunya tinggal satu dengan kondisi udah ga diplastikin dan sampul serta halamannya sudah keriting. Tapi karena saya penasaran sama tulisannya Hawking, yasudah saya beli aja. Eh, ternyata kagak ngarti. Tapi ini buku menarik sih, seinget saya sih gitu. Ada informasi baru yang bisa saya dapet walaupun pada akhirnya saya gak inget

Minuman yang cocok untuk menemani membaca buku ini: bensin

2, 3. Melawan Arus (Aditya Rahman Yani), Aku (Pernah) Punk (Aditya Rahman Yani)

Lu baca di sini dah. Males gue nulis hal yang sama. Pokoknya ye, dua buku ini cocok untuk anak punk yang hijrah sebelum pergi ke Hijrah Fest.

Minuman: Bintang Zero (Inget! 0% alkohol ya)

4. Ziarah (Iwan Simatupang)

Kukira cerita absurd itu ditulis Samuel Beckett dan yang bajingan itu ditulis Eka Kurniawan. Ternyata Iwan Simatupang bisa melakukan keduanya sekaligus. Tema dark dan jenaka dipadukan apik. Enggak dark comedy, tapi cukup bikin bibir senyum simpul. Aku rasa Iwan sungguh meleburkan pemikirannya pada novel ini yang kemudian terwakili pada tiap-tiap tokohnya. Setiap tokoh seakan terjalin manis satu sama lain. Adonannya pas.

(ini gue copy-paste dari zine dekadensiotak vol. 2)

Minuman: Jus bunga mawar

5. No Tulen: Tidak Asli Tapi Hamba Allah (Maman Suherman)

Kang Maman Botax bercerita tentang pengalaman hidupnya yang sebenernya mah biasa sih, tapi dia menyerap sari kebijaksanaan dari setiap pengalamannya itu. Lumayan lah buat dinasihatin dengan cara yang lebih rasa “temen” daripada dinasihatin sama Mario Bros, eh, Mario Teguh.

Minuman: Kopi sachet 2000an cukup lah

6, 7. Aroma Karsa (Dee Lestari), The Crossroads of Should and Must: Find and Follow Your Passion (Elle Luna)

Dua buku ini keren banget dah. Yang suka fiksi, lo bisa baca Aroma Karsa. Dee Lestari loh ya. Jaminan mutu. Kalau lo orang yang lagi pusying dalam memilih jalan hidup antara keharusan dan keinginan, lo bisa coba baca yang Crossroads. Udah gue bahas juga di blog ini. Sila klik di sini untuk Aroma Karsa, dan klik di sini untuk yang Crossroads.

Minuman: Parfum KW boleh lah dicicipin, susu

8. Do (Handoko Hendroyono)

Ga seru anjis! Isinya gambar-gambar doang sama kutipan-kutipan. Ngebahas branding sih. Tapi cuman gitu doang anjis. Sekali duduk tamat lah. Impact ke gue nya ga ada. Mungkin ini masalah selera. Iya, gue ga berselera baca buku ini. Tapi tamat juga bacanya.

Minuman: Kopikap (tau gak lo? itu minuman kopi yang serebuan. Yang ga ada rasanya gitu. Kemasannya kayak teh gelas lah)

9, 10, 11, 12, 13, 14. Things & Thoughts I Drew When I Was Bored (Naela Ali), Hidup Sederhana (Desi Anwar), What I Talk About When I Talk About Running (Haruki Murakami), Para Bajingan Yang Menyenangkan (Puthut EA), I Am Sarahza (Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra), Jalan Hidayah Yana Umar (Tasdiqia Team)

Anjeeeng, gue ngerekap sebanyak ini??? Demi kalian keberlangsungan kehidupan blog gue yang udah mulai ogah-ogahan update. Gue mencoba nulis walaupun rada males juga sih anjeng. Tapi ego ini meyuruhku untuk bikin tulisan ini. Biarlah hasilnya gak karu-karuan. Jadinya rekapannya gini, kagak ada rekap-rekapnya. Nih gue kasih link-nya aja. Udah pernah gue tulis soalnya. Baydewey, gue kemaren-kemaren rajin nulis juga ya.

Sesuai urutan lah ya: di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, dan di sini

Minuman: Kopi-kopi syantik di cafe-cafe necis sambil dengerin lagu-lagu indie yang mengalun-ngalun sepoi-sepoi asoy, aer sungai, akua, anggur merah orang tua, aer ketuban, kuah kolek pisang.

15. Hit Refresh (Satya Nadella)

Gue beli buku ini waktu gue lagi asoy-asoynya ngoding. Pengen beli buku yang berbau informatika gitu. Karena buku tutorial mah gak rame, dan kalau nyari tutorial mah sebenernya gampang tinggal googling. Ternyata eh ternyata, ini buku bisa dibilang lumayan. Nyeritain visi misi si Satya pas jadi CEO Microsoft sekarang. Ngomongin AI, Quantum Computing dan hal-hal yang rasa-rasanya hanya ada di fiksi ilmiah. Juga dengan tidak melupakan wejangan warisan sang founding father Bill Gates tentang empati yang menjadikan Microsoft sebesar sekarang, Windows dipake sampe ke seluruh penjuru dunia dengan bajakan yang mudah didapat.

Minuman: oralit

16. Ego is The Enemy (Ryan Holiday)

Ini bagus nih buat kita-kita yang pengin dapet suntikan motivasi yang lebih elegan dibanding motivasi-motivasi yang dikasih motivator kacangan brengsek yang sering ada di acara kampus. Tentang gimana cara-cara menghadapi ego yang seringkali mengendalikan seseorang dikala bermimpi, sukses, dan gagal. Dihadirkan pula kisah-kisah lumayan asoy dari para tokoh yang kadangkala ga terkenal-terkenal amat sih kalau lo biasanya cuman nongton tivi doang di rumah.

Minuman: kopi dingin sisa semalam

***

Udah, gitu aja. Sampe jumpa tahun depan

anugrah_s year in books goodreads (1)

Iklan

[Book Review] Jalan Hidayah Yana Umar | Kisah hijrah yang renyah

20181004_123708

Jalan Hidayah Yana Umar
Cetakan Pertama, Agustus 2018

Penulis: Tasdiqiya Team
Penerbit: Famous Publisher
Bahasa: Indonesia
Halaman: x + 118 halaman
Harga: Rp 30.000,-
ISBN: 978-602-51810-1-6
Rating: 8/10


“Dilan, kamu enggak bakalan kuat jadi budak bangor. Berat! Biar aku sajalah yang mengalaminya.” – Yana Umar (Halaman 31)

Cerita perjalanan hijrah emang lagi banyak belakangan ini gegara sosmed yang memang edan-edanan. Mungkin nama Yana Umar atau Yana Bo’ol ini tidak seterkenal Nikita Mirzani yang juga hijrah. Tapi saya yakinlah orang Jawa Barat, urang Sunda, apalagi yang suka Persib, Bobotoh Maung Bandung, pasti sudah tidak asing lagi dengan Sang Dirigen. Namanya tidak jarang dijejerkan dengan para dedengkot bobotoh yang lain seperti Ayi Beutik (Almarhum) dan Heru Joko.

Kenapa saya beli buku ini? Waduh, seperti biasa, saya mah belum tau kalau ternyata buku ini ada. Pas saya iseng ke rak best seller, ada buku ini di simpan di pojok kiri atas. Pas saya baca judulnya, anjis, ini harus saya beli nih. Saya lihat bandrol harganya, anjis, murah. Cocok! Gak pake pikir panjang saya langsung bawa buku ini beserta dua buku yang lain ke meja kasir.

Sebagai seseorang yang pernah menggilai Persib (kalau sekarang mah aku udah biasa aja, tapi ikut seneng kalau Persib menang), aku tahu siapa itu Yana Umar. Nama yang legendaris diantara bobotoh Persib. Aku tahu kabar dia hijrah sudah cukup lama dan sempat nonton beberapa video di Youtube tentang hijrah beliau. Aku kagum sih. Orang-orang yang hijrah itu keren, kata saya mah.

Nah, sekarang nemuin bukunya. Anjis. Ini harus dibaca nih. Tapi di sampul depan kok gak ditulis siapa penulisnya ya? Yana Umar sendiri kah? Ah bodo ah, yang penting saya pengen tau kenapa dia mau hijrah.

Awal membaca, pembaca akan disuguhi “ceramah” tentang hidayah oleh Emsoe Abdurrahman di bab pengantar. Siapa dia? Ga tau saya juga. Pokoknya pengantar ini mah formal bak buku-buku keagamaan.

Pas masuk bab berikutnya. Edan. Mulai terasa rasa personalnya.

Dituturkan dengan sudut pandang orang pertama yang berarti memberi kesan Kang Yana sendiri yang bercerita. Tapi kok Kang Yana gak ditulis sebagai penulis ya?

Pada halaman informasi buku pun tidak ada, hanya ditulis oleh Tasdiqiya Team. Oh, mungkin Kang Yana bercerita tentang proses hijrahnya lalu Tasdiqiya Team menerjemahkannya dalam bentuk buku. Mungkin begitu. Apalgi ketika foto-foto yang dicantumkan memang koleksi milik Kang Yana sendiri.

Tapi walaupun begitu, ini enakeun kok. Pas saya baca, saya ngerasanya Kang Yana lagi ngobrol. Santai pisan. Diksi yang sederhana. Juga ditambah kata-kata atau kalimat berbahasa Sunda yang bikin kesan dekat. Sayangnya, gak semua kalimat Sunda itu ada terjemahannya. Kasian atuh euy yang gak ngerti bahasa Sunda.

Jadi, intisari buku ini mah tentang Kang Yana sang bobotoh militan yang jauh dari agama mendapat hidayah melalui mimpi kiamat. Anjis, mimpi kiamat coy! Horor parah men.

Namun cerita hijrah Kang Yana tidak sehoror mimpinya. Malah lucu. Sebagai contoh: diceritakan Kang Yana yang belum pernah adzan seumur hidupnya, ingin melakukan adzan shubuh. Saking inginnya dia adzan sambil baca teks.

Seru lah pokoknya. Cerita-ceritanya, menurut saya, cukup bisa bikin orang begajulan parah termotivasi untuk berubah jadi baik. Kasarnya gini: “Aing wae nu bangor parah bisa hijrah, maenya maneh henteu?”

Nah, aku sempat meneteskan air mata ketika sampai di cerita Kang Yana ke tanah suci. Dia sungguh merendah. Katanya, dia itu dipanggil Allah ke tanah suci bukan karena amalnya, namun karena Allah kasihan padanya yang dosanya sudah terlalu banyak. Masya Allah.

Overall, untuk kontennya asik sih. Bukunya tipis dengan dimensi yang juga kecil. Ditambah dengan foto-foto koleksi Kang Yana sebagai pemanis. Sekali duduk tamat lah ini.

Cocok buat kamu yang ingin baca buku agama yang asoy, ringan, tapi menggugah. Untuk para bobotoh juga, apalagi yang sering liat Kang Yana ngasih instruksi di stadion, ini cocok nih, biar gak jadi suporter barbar. Biar gak ada lagi korban meninggal gara-gara fanatisme buta. Hayu ah urang turutan, barudak!

[Book Review] I Am Sarahza

20180904_151128.jpg

I AM SARAHZA: Di Mana ada Harapan, Di Situ ada Kehidupan
Cetakan pertama, April 2018
Cetakan kedua, Juni 2018
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: Republika
Bahasa: Indonesia
Halaman: vi + 370 halaman
Dimensi: 13.5 x 20.5 cm
Harga: Rp. 75000,-
Rating: 7/10

“Kegagalan memang tak ada gunanya diratapi, kegagalan lebih menyenangkan untuk dicandai” – Sarahza (I Am Sarahza, hal. 84)

Seperti biasa, kalau aku sudah mulai bingung mau beli buku apa, aku pergi ke rak best seller. Di situlah aku nemu buku ini. Selain karena best seller, aku sudah pernah baca buku karya sepasang suami-istri ini sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa. Aku cukup menikmatinya pada saat itu. Walau pada akhirnya aku jadi ngebanding-bandingin sama The Da Vinci Code – dan pemenangnya … tentulah The Da Vinci Code, menurutku.

I Am Sarahza, sejujurnya aku bener-bener gak tau ini novel bakal nyeritain apa. Gambar jabang bayi pada sampul pun gak ngejentikin apapun ke otakku. Mungkin penyuka buku yang lain tau kalau Hanum itu baru dikaruniai anak, sedangkan aku itu termasuk penyuka buku yang rada-rada masa bodo sama kehidupan penulisnya. Kecuali aku memang benar-benar suka sama penulisnya, dalam artian aku bukan hanya suka karya-karyanya, tetapi juga apa yang terjadi dibalik karyanya – the idea. Sedangkan sikapku pada karya Hanum dan Rangga itu biasa aja.

Ok, jadi novel ini bercerita tentang pengalaman Hanum dan Rangga dalam usaha bikin dede bayi. Usahanya macem-macem. Banyak istilah kedokteran yang aku susah ngingetnya. Pokoknya seperti terapi sampai bayi tabung. Memoar lah ya, atau lebih tepatnya mah, based on true story.

Aku heran kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering baca memoar. Kali ini juga, walaupun bentuknya itu novel.

Karena bentuknya novel, ada sebuah pendramatisiran (bener gak sih? ada gak sih kata ini? Ah bodo ah), dari sebuah kejadian nyata yang mereka alami. Walaupun sebenernya menurut aku mah hidup itu udah gak perlu didramatisir, da udah terlalu drama hidup ini teh. But anyway, this is novel. Gimana we caranya mah biar asoy buat dibaca. Tapi gak lebay, masih tetap pada koridor realisme.

Tapi ada satu nih yang menghancurkan rasa realisme itu: Sarahza.

Jadi, novel ini menggunakan tiga sudut pandang berdeda. Sudut pandang Hanum, Rangga, dan Sarahza. Digunakan bergantian. Itu memperkaya rasa, karena ketiga sudut pandang itu memakai sudut pandang orang pertama. Jadi, pembaca bisa merasakan gimana stressnya Hanum sebagai perempuan ketika mengalami kegagalan demi kegagalan kehamilan, dan heroiknya Rangga sebagai seorang suami. Itu keren, yang bikin saya rada ngernyitin dahi itu Sarahza.

Siapakah itu Sarahza? Dia adalah anaknya Hanum dan Rangga. Anaknya? Bukannya ini cerita tentang pengen punya anak? Iya betul, ini sudut pandang Sarahza yang masih dalam bentuk roh, settingnya di Lauhul Mahfuzh. Masih tetap menggunakan sudut pandang orang pertama tapi dia ini seolah-olah omniscient. Cmon! Sarahza itu roh, bukan tuhan. Kenapa harus dibikin gini? Jadi dia itu di Lauhul Mahfuzh seakan lagi nonton layar tancep yang nayangin perjalanan hidup keluarganya untuk narik dia ke dunia. Apa benar seperti itu? Cmon man! Ini soalnya based on true story gitu, jadi kalau ditambahin sesuatu yang rada ” tidak kasat mata” jadinya … ahhhhh… kenapa gak dibikin bener-bener fiksi aja gitu. Tokohnya jangan dinamain Hanum, Rangga, Sarahza, dan Amin Rais yang benar-benar ada di bumi ini. Udin kek, Naruto kek, Black Widow kek. Kan jadinya canggung. Itu menurutku ya, masalah selera sih.

I am a moslem. I believe there is Lauhul Mahfuzh, sebuah “kitab” takdir Allah yang apapun tertulis di dalamnya pasti akan terjadi. Tapi aing gak pernah ngebayangin Lauhul Mahfuzh itu bakal ada layar tancepnya.

Itu doang sih yang ngganjel. Soalnya ini jadi kayak di dunia antara. Antara fiksi dan realita. Labil gitu.

Tapi novel ini bagus, flownya santai. Walaupun konfliknya itu gitu-gitu doang, gagal hamil – coba lagi – gagal hamil – coba lagi, gak bikin bosen tuh bacanya. Soalnya, apa yang Hanum dan Rangga lakukan dalam menyikapi persoalan itulah yang bikin ceritanya jadi menarik. Ada unsur dakwahnya juga. Lumayanlah jadi ngingetin saya untuk kembali ke jalan yang benar.

By the way, kayaknya ini bakalan menarik untuk dibaca sama orang-orang yang sudah menikah. Apalagi untuk mereka yang bakalan punya anak, atau sudah punya anak. Soalnya referensinya bakal ngeklik sama penulisnya. Jadi bakal ngerti tuh apa yang Hanum dan Rangga alamin.

Kalau aku kan jomblo brengsek, jadi belum ngerti gimana sih rasanya nunggu anak lahir, gimana sih rasanya jagain istri yang lagi hamil, gimana sih rasanya nemenin istri melahirkan. Aku gak punya referensi itu.

Soalnya, bagiku kenikmatan membaca buku itu adalah tentang ngekliknya referensi.