[Book Review] The Punk

The Punk
Cetakan Pertama, 2019
Penulis: Gideon Sams
Penerbit: Immortal Publisher dan Octopus
Halaman: xiv + 98 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia
Penerjemah: Adhe
Awal terbit: 1977 – Corgi Books/Polytantric Press, London
Rating: 8/10


Kayaknya kalau saya nemu buku ini waktu jaman STM dulu, pasti saya sangat bahagia sekali. Pada waktu itu saya memang sedang suka-sukanya sama skena dan kultur punk.

Sekarang saya sudah tua dan pembahasan mengenai punk sudah saya anggap biasa saja, namun itu tidak membuat saya tidak suka punk. Masih ada rasa-rasa punk yang mengalir di pembuluh-pembuluh darah saya. Maka, ketika saya tidak sengaja mendapatkan buku ini dari sebuah toko buku di Bandung, atom-atom punk dalam darah saya masih berdesir.

Buku ini disimpan di ujung rak tempat buku-buku yang tidak laku. Syukurlah saya sabar memandangi punggung buku satu-satu di rak itu. Jika tidak, mungkin saja saya malah menyerah mencari buku “unik” dan malah membeli buku Rhenald Kasali yang tebel-tebel mampus itu.

Buku yang diberi judul The Punk ini murah. Kalau tidak salah, harganya kurang dari 50 ribu rupiah. Masuk akal dengan dimensi yang kecil dan halaman yang tidak banyak.

The Punk adalah sebuah novel yang ditulis oleh anak berusia 12 tahun. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1977 dimana Inggris sedang digoyang skena punk yang bikin banyak orang mual. Gideon, si penulis, membuat novel ini untuk memenuhi tugas sekolahnya. Walaupun ini memang untuk tugas sekolah, bukan berarti Gideon adalah anak yang rajin belajar. Gideon malah suka mabuk dan makan narkoba sambil mendengarjan lagu-lagu Sex Pistols. Meskipun begitu, ternyata novel ini digadang-gadang sebagai novel punk pertama di dunia. Gila gak tuh? Anak umur 12 tahun yang doyan mabok berhasil mencipta novel punk pertama di dunia.

Jika kamu mengasosiasikan kata punk dengan pemberontakan, itu memang sejalan. Namun, jangan harap kamu akan menemukan kisah pemberontakan kelas pekerja melawan sistem kapitalisme bajingan, atau kisah proletar meludahi borjuis, atau kisah global warming anjing, atau kisah pemujaan Karl Marx, atau kisah doktrin kultur punk yang anti-kemapanan. Novel ini bertemakan cinta.

Dikisahkan sang tokoh utama bernama Adolph Spitz yang jatuh cinta pada perempuan yang bernama Thelma – mantan pacar anak Ted (Ted diambil dari kata Teddy Bear, sebuah kelompok masyarakat kelas bawah yang membenci punk). Kisah cinta mereka dihiasi pemberontakan khas anak muda – membentak orang tua, berdandan punk, pergi ke gig musik punk, dan tawuran antar kelompok.

Saya malah memandang novel ini sangat tulus, tidak mengawang menggapai cerita yang jauh. Ini hanya soal cinta-cintaan. Seperti tagline di edisi Bahasa Indonesia ini: Romeo dan Juliet yang berpeniti.

Ini nyaris gak ada perang kelas sama sekali. Anak Punk dan anak Ted sama-sama kelas pekerja. Sangat sedikit deskripsi anti-kemapanan. Mungkin melawan keinginan orang tua bisa masuk deskripsi anti-kemapanan.

Tapi glorifikasinya terasa sekali. Tahun 1977 adalah tahun dimana skena punk lagi edan-edanan menyapu London. Sex Pistols, The Damned, dan The Clash ditulis sebagai pemanis wajib demi menjadikan aura novel ini sah disebut punk. Belum lagi klub malam The Roxy yang legendaris bagi skena punk saat itu. Oh, jangan lupakan perseteruan Jhonny Rotten dan Mick Jagger yang juga dijadikan bumbu yang dituang sedikit tapi sangat berkesan.

Secara keseluruhan, saya suka sama novel ini. Cocok dibaca sambil ngisep lem aibon (Enggak dong, bercanda saya teh. Lem Fox deh boleh). Novel ini begitu tulus, tidak berusaha membagus-baguskan punk. Kasarnya, punk itu sampah ya sampah aja. Memang begitu stereotype-nya kan? Yeuh, aing punk yeuh! Begitu, tidak pretentious.

Untuk kamu para remaja tanggung yang lagi nyari jati diri dengan jadi anak punk, boleh deh ini dibaca. Biar kamu bisa sombong sama teman satu skenamu bahwa kamu pernah baca novel punk pertama di dunia. Jadi referensi kamu tidak hanya bacotan-bacotan JRX SID doang.

Saya membaca buku-buku dengan gaya rock n’ roll di tahun 2019

24 buku di tahun 2019. Dua kali lipat target tahun kemarin. Berhasil. Keren sekali emang si saya ini.

Sampai saat ini, saya masih menganggap kalau membaca buku itu keren, dan saya ingin kamu juga keren. Biar kalau ngobrol nyambung. 24 itu bukan jumlah yang banyak. Cuman dua buku per bulan. Kamu juga bisa. 10 menit dalam satu hari, sambil eek di kamar mandi, sambil roko-an bisa lah baca-baca dikit.

Seperti tahun kemarin, saya akan melanjutkan tradisi merekap (dengan sedikit ulasan) buku apa saja yang telah saya baca. Mungkin ini bakal berguna bagi kamu yang lagi nyari buku yang asoy untuk dibaca. Namun, kamu jangan terlalu berharap dari ulasan bajingan ini. Saya terlampau malas, tapi energi berbagi saya tinggi.

Yasudahlah, setidaknya saya mencoba…

Anugrah’s Year in Books Goodreads
Lihat My Year in Books 2019

Ini lah buku-bukunya:

1, 2, 3. Steal Like An Artist (Austin Kleon), Show Your Work! (Austin Kleon), Keep Going (Austin Kleon)

All hail Austin Kleon. Ini orang bikin saya gak berhenti bikin sesuatu. Walaupun yang saya bikin itu banyak yang gak berguna, saya suka ngejalaninnya. Ketidakbergunaan itu bisa dilihat di blog ini, atau blog yang ini, atau podcast yang ini, atau zine yang ini, atau koding-kodingan yang ini.

Jika kamu pengen seperti saya, mendulang kesenangan dalam ketidakbergunaan, kamu bisa memulainya dengan membaca Steal Like An Artist. Lalu kamu bisa mendapat suntikan semangat untuk memamerkan karyamu ke sosial media dengan membaca Show Your Work!. Ketika kamu mulai lelah di tengah perjalananmu berkarya, kamu bisa istirahat sejenak sambil membaca Keep Going.

Lihat ulasan singkatku untuk Steal Like An Artist dan Show Your Work di zine ini.

4. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Mark Manson)

Mungkin sekarang kamu lagi marah sama dunia. Fuck semua orang. Lalu kamu memutar lagu Slipknot yang berjudul People = Shit keras-keras. Orang-orang bilang kamu gak berguna, semua yang kamu lakukan itu sampah. Maka, segeralah ambil ponsel pintarmu, buka aplikasi e-commerce, pesan buku ini.

Kebetulan aku suka kisah Onoda yang diceritakan di buku ini. Kamu bisa mendengar ocehanku di sini tentang kisah itu.

5. Revolusi Industri 4.0: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang di Era Disrupsi 4.0 (Astrid Savitri)

Dimana-mana kamu melihat tulisan “4.0”. Kamu muak karena kamu gak ngerti apa sih 4.0 itu? Terus apakah ada revolusi industri 1.0 atau 2.0 atau 3.0? Buku ini bisa jadi solusi dari pertanyaanmu itu. Percayalah, kamu akan mulai merasa sedang berada dalam film sci-fi, lalu tiba-tiba kamu ingin kerja di Gojek, Bukalapak, atau Traveloka.

6. Amor Fati: Cintai Takdirmu (Rando Kim)

Kamu baru lulus kuliah. Usiamu terlalu muda untuk dibilang dewasa. Tapi kamu ngerasa udah gede dan bisa hidup mandiri. Lalu kamu mendapati kenyataan bahwa mencari pekerjaan itu tidak mudah karena kamu bego. Apabila kamu sudah bekerja, kamu tidak suka kerjaan kamu karena kamu merasa bisa dapat yang lebih dari apa yang kamu dapatkan sekarang.

Lalu kamu memutar kembali People = Shit karena ibumu meminta kamu segera menikah. Sedangkan pacarmu baru saja direbut PNS bajingan. Lalu kamu mulai malas keluar rumah karena merasa bukan siapa-siapa, sedangkan teman-temanmu sudah bisa membeli mobil Avanza dan jalan-jalan ke Paraguay.

Ambil kembali ponsel pintarmu, buka kembali aplikasi e-commerce itu, pesan buku ini segera. Tapi ternyata kamu gak punya uang karena habis untuk mabuk-mabukan. Maka, pergilah ke perpustakaan kota. Jadilah anggota. Pinjam buku ini. Kalau tidak ada, mintalah petugas perpustakaan untuk meyediakan buku ini. Tunggu dengan sabar.

7. Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones (James Clear)

Kamu adalah seorang pemalas. Lalu, kamu ingin membangun kebiasaan yang positif. Lalu kamu membeli buku How to Master Your Habits dari Felix Siauw, tapi ternyata itu tidak membantu banyak. Kamu merasa bahwa kamu butuh penjelasan yang lebih ilmiah tentang pembentukan kebiasaan. Kamu butuh langkah-langkah sederhana yang jelas.

Maka, ambil ponsel pintarmu kembali, kamu tahu apa yang selanjutnya harus kamu lakukan.

8. Diskursus dan Metode (Rene Descartes)

Kamu adalah mahasiswa semester tiga. Kamu baru saja nonton Fight Club yang diunduh dari indoxxi. Kamu dan temanmu senang berdiskusi tentang hidup. Level selanjutnya adalah: jangan nongkrong di kantin. Lalu, pergi ke perpustakaan. Pinjam buku ini. Level kekerenan kamu akan bertambah.

Biarlah kamu gak ngerti apa yang Descartes ucapkan tentang matematika itu. Yang terpenting adalah, “aku membaca Descartes maka aku keren”.

9, 10, 11. The Life-Changing Magic of Tidying Up (Marie Kondo), Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang (Fumio Sasaki), Seni Hidup Minimalis (Francine Jay)

Minimalisme sedang menyita perhatianku. Aku kurangi barang-barangku karena Kondo bilang harus menyimpan barang-barang yang menggetarkan hati saja. Lalu ku rapikan kamarku agar pikiran tidak ruwet. Eh, ternyata lebih ruwet memahami cara melipat yang diajarkan Kondo. Mungkin cara dia beres-beres bukan untukku.

Lalu kutemukan Fumio Sasaki di toko buku kesayangan saya. Penjelasannya tentang konsep minimalisme lebih tertata. Aku bisa mengikutinya. Aku mulai memberikan barang-barang yang tak lagi berguna untukku pada orang-orang yang mau menerimanya. Karena Sasaki mengajarkan bahwa hanya barang-barang yang fungsional saja yang pantas dimiliki, sama seperti nenek moyang kita di zaman purbakala dulu. Lalu, aku mulai tak tergoda untuk membeli barang-barang yang gak butuh-butuh amat. Gak hanya karena ingin jadi minimalis sih, karena gak ada duit aja, dan gak mau ngutang aja. Tapi setidaknya, saya kini punya alasan untuk tidak menyesal karena tidak membeli barang.

Sedangkan Francine Jay adalah extended version dari Sasaki.

Baca opiniku tentang bukunya Sasaki di sini.

12. Septictank: Pengalaman Nyemplung ke Kolam Politik (Pandji Pragiwaksono)

Suasana pilpres kemarin menyebalkan, bukan? Di sisi lain, orang-orang tiba-tiba sadar politik. Kamu juga ingin tersadarkan jiwa politiknya. Kamu mulai membeli majalah Tempo, tapi setelah dibaca malah membuat kepalamu ruwet. Lalu kamu pergi ke toko buku dan menghampiri rak buku politik, tapi tidak tahu mau beli yang mana karena baru lihat judulnya saja otak kamu sudah skeptis akan kemampuanmu mencerna isi bukunya.

Maka, kusarankan kamu belajar politik dari komedian saja. Menurutku, ini adalah buku politik paling ringan yang pernah saya temui. Pandangan penulis boleh juga dipelajari mengingat dia pernah berada di dua sisi.

13. Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia (Yuval Noah Harari)

Saya pernah ngomong gini di twitter. Ya gitulah kira-kira resensi super singkatnya.

Kalau kamu suka sejarah. Ini cocok sih. Saya suka di bab-bab awal tentang evolusi dan hubungan antar manusia. Nah, makin kesana makin ngantuk saya bacanya. Tapi jadi seru lagi pas ngebahas tentang duit.

14, 15, 16. Harry Potter dan Batu Bertuah (J. K. Rowling), Harry Potter dan Kamar Rahasia (J. K. Rowling), Harry Potter dan Tawanan Azkaban (J. K. Rowling)

Asal kamu tahu, ini adalah kedua kalinya saya membaca ketiga buku itu. Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca ketiga buku itu. Buktinya bisa dilihat di zine ini.

Asal kamu tahu juga, saya lagi-lagi berhenti di tengah jalan ketika membaca Harry Potter dan Piala Api. Kenapa bisa gitu ya? Apa karena saya sudah nonton semua film Harry Potter? Saya menikmati membaca tiga buku ini loh. Kenapa saya tidak mendapatkan kesenangan yang sama di buku ke empatnya ya?

17. Flip Da Skrip: Catatan Rap Nerd Selama Satu Dekade (Herry Sutresna)

If you are a hiphophead, you must read this book. Penulis adalah Morgue Vanguard ketika mic digenggamnya. Dia adalah tuhan bagi dunia rap Indonesia. Rima padat, diksi tingkat tinggi, bredelan flow, dan sampling yang kaya adalah ciri dari lagu-lagu yang dia tawarkan.

Sepuluh tahun dia mencatat apa saja yang terjadi di dunia hiphop, khususnya musik. Dari 2007 – 2017, dia konsisten mencari album-album rap bagus. Menyamber yang ada di permukaan dan menggali yang berada jauh di bawahtanah. Tak heran, apa yang dia karyakan adalah luar biasa.

Simak ulasanku tentang buku ini di sini.

18. Di Balik Tirai Aroma Karsa (Dee Lestari)

Aku mengagumi Aroma Karsa. Sudah kuduga bahwa persiapan untuk menulis novel ini tidak main-main. Buku ini menyibak apa yang terjadi sebelum Aroma Karsa duduk manis di toko buku.

Dan kamu hanyalah penulis blog kacangan, sedangkan Dee rela belajar meracik parfum di Singapura dan memperhatikan bangkai kucing untuk menyelesaikan Aroma Karsa.

19. Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai (Goenawan Mohamad)

Kamu adalah mahasiswa sastra. Rasanya kamu akan jadi sastrawan hebat setelah membaca buku Goenawan Mohamad. Lalu kamu cari-cari buku itu sampai ke Palasari, berharap yang bajakannya pun tidak apa-apa. Tapi kamu tidak mendapatkan apa-apa. Lalu kamu malas mencarinya lagi.

Beberapa tahun kemudian, kamu telah jadi sarjana dan bekerja bukan sebagai sastrawan, melainkan budak korporat yang memandang sastra hanya permainan kata tak berguna. Lalu kamu pergi ke toko buku demi mencari buku berkategori self-improvement. Oh apa gerangan yang malah kamu bawa ke meja kasir? Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai. Oh indahnya sebuah nostalgia. “Aku adalah anak sastra”, katamu dalam hati yang berteriak.

Kamu membalik halamannya satu-satu. Kamu membaca kata per kata. Kamu tidak mengerti. Jiwa sastramu telah tertimbun realita. Bahwa lemburan adalah neraka sekaligus bonus di akhir bulan. Bahwa statistik lebih pantas dipedulikan daripada jiwa sastramu yang bebas. Bahwa…

20. The Book of Ikigai: Make Life Worth Living (Ken Mogi)

Saya lupa isi bukunya tentang apa. Tapi saya ingat poin penting yang ada di buku ini: hiduplah dengan tulus dan ikhlas.

21. Urban: Cerita Mentega (Trio Urban)

Mungkin kamu lagi suntuk dan ingin yang bodor-bodor. Kamu pengen bacaan ringan yang bisa menuntaskan target baca tahunan kamu dengan mudah. Kamu hanya ingin dihibur.

Apabila kamu adalah orang sunda, buku ini cocok sekali untuk kamu beli. Kenapa harus sunda? Karena bodoran-bodorannya itu khas sunda.

Mungkin kamu gak kenal siapa itu Trio Urban karena kamu gak pernah dengerin I-Radio. Itu gak masalah, karena bodornya bisa tetep nyampe. Saya pernah mengulas buku ini di sini.

22. The Leader Who Had No Title: Seni Memimpin Tanpa Jabatan (Robin S. Sharma)

Buku ini cocok dibaca anak kecil yang ingin dapat motivasi untuk jadi sukses. Karena kamu sudah dewasa, kamu tidak perlu membaca buku ini.

Eh, but your mental age is a child, so you have to read this book.

23. Millennials (MIX MarComm)

Kamu bingung dengan kata millennial yang sering berseliweran akhir-akhir ini. Apa sih millennial itu? Siapa aja yang masuk generasi millennial? Apa ciri-ciri generasi millennial?

Jika kamu nyari jawaban-jawaban itu, bab-bab awal buku ini cocok untuk dibaca. Dari bagian tengah sampai akhir buku, menurutku gak penting-penting amat untuk dibaca.

24. Malas Itu Perlu: Menjadi Sukses Tanpa Susah Payah (Dodaeche)

Dodaeche adalah pekerja kantoran, maka Dodaeche adalah kita. Dodaeche adalah orang yang menggerutu karena jadi karyawan kantoran dengan gaji pas-pasan, maka Dodaeche adalah kita. Dodaeche adalah orang yang senang rebahan di waktu senggang, maka Dodaeche adalah kita. Dodaeche adalah orang yang gembira apabila atasan tidak masuk kerja, maka Dodaeche adalah kita. Dodaeche masih lajang dan mengerjakan apapun sendirian, maka Dodaeche adalah kita. Dodaeche bersusah payah menghadirkan hikmah dari setiap kesialan yang menimpanya, maka Dodaeche adalah kita. Dodaeche adalah orang yang ingin resign tapi tak punya keberanian karena tidak punya rencana, maka Dodaeche adalah kita. Dodaeche adalah orang yang ingin sukses tanpa harus bersusah payah, maka Dodaeche adalah kita. Mungkin Dodaeche pun sesekali memutar People = Shit, mungkin Dodaeche adalah kita.

[Book Review] Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang

WhatsApp Image 2019-11-14 at 07.30.16 (2)

Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Cetakan Keenam, Juni 2019
Judul Asli: ぼくたちに、もうモノは必要ない。 断捨離からミニマリストへ
Penulis: Fumio Sasaki
Penerjemah: Annisa Cinantya Putri
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 280 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia
Rating: 8/10


“The things you own end up owning you. It’s only after you lose everything that you’re free to do anything.” – Tyler Durden dalam Fight Club

Anjir, setelah baca Marie Kondo, gue jadi tertarik sama konsep minimalisme. Sebelumnya juga gue pernah liat videonya Raditya Dika yang ini.

Gaya hidup minimalis itu keren, man. Intinya, kita hanya nyimpen barang yang kita butuh doang. Kalau kata Marie Kondo mah “barang yang menggetarkan hati”. Nah, kalau kata si Soseki mah, “barang-barang yang fungsional”. Dengan menyimpan barang-barang yang kita butuhkan doang, harapannya adalah keluar dari penjara barang seperti yang dilakukan oleh Tyler Durden dalam film Fight Club.

Ok, udah ah bacotnya. Pusing gua. Baru pulang kerja anjis. Tapi pengen nulis. Ya udah, mari kita bahas bukunya.

Menurut si penulis, gaya hidup minimalis itu mulai populer di Jepang sekitar tahun 2010 ketika si Marie Kondo ngeluarin buku. Kayaknya di negeri kita mah baru sekarang-sekarang ya? Atau gue doang yang telat? Ah bodo ah. Pokoknya si penulis teh sedikit-banyak terpengaruh sama si Kondo dalam menjalani hidup minimalis.

Gue pernah baca bukunya Kondo, gak begitu ngefek sih. Bertele-tele anjis. Ribet. Nah, buku ini mah asik. Rasa personalnya dapet banget. Kebetulan, gue itu suka apa-apa yang berbau personal. Jadi si penulis teh bener-bener nyeritain hidupnya ketika dia menjadi “penimbun” dan ketika dia menjadi minimalis.

Dia jelasin tuh manfaat dari minimalis teh apa. Apa coba? Salah satunya teh, kita jadi fokus pada hal-hal yang penting karena gak ada barang yang ganggu pikiran kita.

Seperti yang Tyler Durden bilang, bahwa barang-barang yang kita miliki lama-lama bakal balik jadi memiliki kita. Dengan kata lain, kita bakal diperbudak barang.

Diperbudak bagaimana sih?

Gini.. misal lu punya sepatu banyak banget. Padahal yang lu butuh itu sebenernya cuman sepasang. Yang lainnya cuman buat gaya doang, alias biar dinilai keren aja sama orang, atau lu mau nyombong doang. Kalau gue sih, gak masalah. Terserah lu. Cuman, nantinya si barang itu teh lambat laun bakal jadi tuan, lu jadi budak. Kenapa? karena nantinya sepatu-sepatu itu teh butuh perawatan, butuh tempat, butuh dipilih, dll. yang bakal nyita waktu lo. Padahal waktu yang lo punya buat ngurus sepatu bisa dipake buat hal-hal lain yang lebih penting. Belajar ngoding misalnya.

Dengan gaya hidup minimalis, lu sudah mengeliminasi hal-hal “gak penting” tadi untuk langsung ngelakuin hal-hal yang bener-bener penting.

Contoh lain: aplikasi di handphone lu.

Sebenernya lu gak perlu-perlu amat kan ngecek notifikasi dari sosmed. Tapi karena lu install aplikasinya, lu jadi greget pengen liat ada notifikasi apa. Tapi kalau lu gak nginstall aplikasi itu, lu gak akan ngalamin hal yang begitu. Gitu… man.

Tapi da susah ya ngelepas barang teh. Itu karena, menurut si penulis, barang teh nunjukin siapa diri kita. Your value. Mungkin lu pengen dibilang keren makanya beli sneaker mahal, atau mungkin lu pengen dinilai cuek bodo amat sama dunia makanya lu pake kets rombeng. Nah, dengan ngelepas barang itu teh ya, kita teh jadi merekonstruksi nilai diri, jadi lebih liat ke dalem gitu. Apa sih yang esensial? Gitu…

Di buku ini juga ngebahas tentang buku-buku yang dikoleksi.

Gue punya buku lumayan banyak. Padahal gak dibaca semua. Padahal gak semua gue suka. Padahal gak semua gue paham. Tapi kenapa ya gue masih nyimpen buku itu? Karena sayang udah dibeli, karena bukunya terlihat keren kalau ada temen yang dateng, karena gue bisa bilang “tuh di rumah ada tuh buku Nietzsche”. Padahal, apa gue butuh semua buku itu? Apa iya dengan nyimpen bukunya Nietzsche kualitas hidup gue bakal membaik? Apa iya dengan punya banyak buku gue bakal bisa kayak Bill Gates? Nah, itu yang ditawarin sama si penulis teh. Penting gak itu semua teh?

Terus, apa gue udah membuang koleksi buku gue? Tidak dong! Sayang anjing. Ada sih, beberapa doang yang emang menurut gue itu gak keren dan gak akan pernah gue baca.

Pokoknya ya buku ini teh lumayan mantap sih, seenggaknya mantap telah mempengaruhi pikiran gue. Karena, iya sih, ambisi membeli barang itu ngeri man. Gue suka aneh aja liat orang ngutang demi barang, terus hidupnya jadi ripuh karena harus bayar cicilan. Untuk orang boros, buku ini layak dibaca.

Penulis juga ngasih tutorial cara membuang barang. Dan semuanya teh ditulis detail. Suka pokoknya aing mah.

Lebih bagus buku ini daripada bukunya si Kondo, kalau kata saya mah.

Terus ada pembahas Carpe Diem juga. Gitu lah pokoknya aing cape ngejelasinnya. Pengen udud sambil ngopi terus bobo.

Terus ya, aing teh kan iseng nyari judul aslinya terus gue masukin google translate, dan hasilnya seperti ini:

Screenshot (29)

Lebih keren kan itu terjemahannya dari pada judul versi Bahasa Indonesianya?

Urban: Cerita Mentega | Bodor sunda yang aduh ajig bodor

WhatsApp Image 2019-11-06 at 19.42.15
Aslina! Maca Urban bari udud sampurna kretek ngeunah pisan.

Urban: Cerita Mentega
Cetakan Pertama, Juni 2019
Penulis: Trio Urban (Ronny, Wanda, Elmi) dan Anggia Bonyta
Penerbit: The Panasdalam Publishing
Halaman: 181 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia
Rating: 7/10

” ‘Low profile lebih baik daripada low budget’ #kataelmi” – hal. 17

Saya emang udah niat mau beli buku yang ringan. Otak saya capek kalau baca buku yang berat-berat teh. Memang lemah saya teh ya. Makanya pas denger bahwa ada buku yang Tike Pritanakusumah ngasih endorse bahwa trio yang nulis buku ini teh orang-orang bodor, sudah kurencanakan akan kubeli nanti kalau udah gajian.

Sebenernya saya gak tahu siapa itu Trio Urban. Yang saya tahu cuman si Wanda Urban aja yang suka nongol di Ngobat-nya Budi Dalton. Tapi karena kata Tike ini bagus, kata Pandji Pragiwaksono juga bagus, ya kemakan lah saya sama omongan mereka-mereka ini. Mudah dihasut ya ternyata saya ini. Tapi seenggaknya saya punya kambing hitam kalau nanti ternyata buku ini gak bagus.

Katanya, mereka bertiga ini teh penyiar di I-Radio Bandung. Aduh, saya mah bukan pendengar radio. Udah lama saya gak dengerin radio. Soalnya radio sekarang mah kebanyakan lagu, kurang porsi bacot penyiarnya. Terus lagu-lagunya teh jarang yang saya suka. Teu ngareunaheun lah intina mah. Makanya saya lebih suka dengerin podcast aja yang puguh-puguh ngebacot. Kalau mau denger lagu mah mending Spotify weh puguh bisa milih lagu.

Gapaplah, yang penting mah isi bukunya saya harap bisa menghibur.

Alhamdulillah nya teh euy. Bagus. Bodor. Asli ieu mah. Terkahir saya ngakak baca buku teh pas baca “Mau Jadi Apa?”-nya Soleh Solihun. Ternyata buku ini gak kalah lah sama bukunya Soleh. Ringan, renyah, dan nyunda. Sebenernya mah harus ngerti basa sunda kalau mau dapet bodornya secara pol. Soalnya, banyak juga kalimat yang ga ada terjemahannya dan banyak bodoran-bodoran khas urang sunda.

Terus ya, kan buku ini teh ditulis sama tiga orang. Per artikel gitu. Kadang suka ga ditulis di awal siapa penulisnya teh. Kan aing jadi lieur, saha ieu teh nu nyarita? Tapi nanti ada da di dalem artikelnya bahwa siapa yang lagi cerita.

Buku ini teh semacam rekam jejak perjalanan Trio Urban. Dari kisah-kisah konyol masing-masing personil, bagaimana mereka bertiga akhirnya bertemu, ikutan Akademi Pelawak Indonesia 2, sampai tetap siaran sampe sekarang di I-Radio Bandung.

Cocoklah buku ini mah dibaca di waktu senggang saat kamu lagi suntuk, lagi rudet karena kerjaan, atau sehari setelah ditinggal mantan kawin. Gak tau siapa itu Trio Urban juga gak masalah. Tetep lucu. Sekali duduk tamat. Recomended lah. Daripada baca Noam Chomsky, lieur ajig! Mending maca ieu, bisa seuri ngeunaheun.

Desain sampul nya unik kayak bungkus margarin Blue Band lengkap dengan logo halalnya. Dicocokin lah sama judul bukunya Urban: Cerita Mentega. Yang ngedesainnya teh Yoga PHB yang biasa bikin parodi desain logo-logo band atau musisi. Unik sih mantap lah saya suka.

Terus, di buku ini juga saya baru tau kalau ternyata The Panasdalam teh punya publishing euy. Wah edan kieu euy kerajaan Pidi Baiq

[Book Review] Flip Da Skrip

20190815_234057

Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan Rap Nerd Selama Satu Dekade
Copyleft (ɔ) Herry Sutresna, 2018

Penulis: Herry Sutresna
Penerbit: Elevation Books
Bahasa: Indonesia
Halaman: 240 halaman + sisipan
Harga: Rp. 120.000,-
Rating: 8 / 10


“Musik bisa membuat seseorang berbuat bodoh tanpa batas” – hal. 10

Tahun lalu buku ini terbit, bulan lalu saya baru membacanya. Setelah asoy dengerin single Kontra Muerta dan album Demi Masa di Spotify, saya jadi penasaran sama buku ini yang merangkum catatan sepuluh tahun sang penulis tentang album-album Hip-Hop yang menurutnya bagus. Herry Sutresna yang biasa dikenal sebagai Ucok dan ketika menggenggam mic dia memakai moniker Morgue Vanguard, adalah seorang rapper dari grup Hip-Hop yang telah menyatakn bubar pada tahun 2007, Homicide.

Kalau kamu sudah sering dengar lagu-lagu yang Ucok terlibat di dalamnya, kalian pasti sadar betapa mewah dan kayanya lagu itu. Dari mulai beat yang tidak biasa, pemilihan sample, dan lirik yang sangat prosa langitan. Buku ini mungkin, bisa sedikit menjawab dari mana saja pengaruh yang Ucok dapat ketika membuat lagu-lagunya. Catatan sepuluh tahun, Ucok konsisten dengerin rilisan-rilisan Hip-hop dan bikin daftar mana saja yang menurut dia bagus. Edan teu tah? Jelas terlihat passionate sekali tah si Ucok teh terhadap Hip-hop. Maka jangan heran kalau lagu-lagunya dia teh edan-edan, da referensinya juga banyak pisan. Tidak generik pula, karena yang didengerin bukan yang ngambang di mainstream doang semacam Eminem dan Kendrick Lamar, melainkan jauh menembus ke dalam tanah semacam Ka, begitulah kira-kira apa yang saya dapet setelah baca bukunya.

I’m not a Hip-Hop head, tapi aing suka dengerin hip-hop. Jadi, buku ini teh aing pakai sebagai referensi lagu hip-hop mana lagi nih yang aing mesti denger. Soalnya, aing sudah suka lagu Homicide, harusnya, ada dong yang aing suka juga dari apa yang personil Homicide suka. Seperti saya yang jadi dengerin album Fear Of A Black Planet dari Public Enemy karena Ucok udah ngebahasnya di gutterspit.com yang merupakan blog personalnya. Dan dari situ aing jadi digging lebih dalam lalu aing kenalan sama Ice Cube, Rakim, dan tentu saja Tupac Shakur. Apalagi aing lebih seneng dengerin old school yang lebih lirikal semacam Rakim dari pada new school hip-hop yang kumur-kumur kayak Lil Pump. Selera sih ya itu mah. Suka-suka

Seperti suka-sukanya Elevation Books yang selalu ngebungkus paketannya pake apapun suka-suka dia. Waktu pertama kali belanja di Elevation, saya beli bukunya Herry Sutresna juga yang Setelah Boombox Usai Menyalak, bukunya dateng dengan dibungkus majalah bekas yang kece juga sebenernya itu gambar dari majalahnya. Nah, untuk yang Flip Da Skrip ini dibungkus pake plastik Uniqlo, goblok gak tuh anjing? Terus dibungkus lagi pake poster promosi kaset Homicide untuk album Godzkilla Necronometry, lumayanlah buat ditempel di kamar.

Ok, kita kesampingkan aja masalah perbungkusan itu. Dan saya bahas bukunya. Dengan bahasan yang suka-suka aing juga.

Ini buku yang arogan bagi saya yang suka dengerin Hiphop sebatas Iwa K, kadang dengerin Saykoji atau Pandji (aduh anjing kenapa aing malu ya? Apa karena kata Dethu si Pandji itu Sucker MC?). Intinya mah aing memang suka dengerin hiphop yang di permukaan, jadi mencerna apa yang direkomendasikan Ucok ini rada pe-er sih. (Aing sampe sekarang gak ngerti siah gimana mencerna lagu-lagu Ka yang musiknya gak ada beatnya itu dan ngerapnya kayak monolog aja gitu)

Kearoganan buku ini terletak dari bagaimana Herry Sutresna aka Ucok (selanjutnya aing bakal pake nama Ucok aja lah ya, lebih enakeun), merefleksikan sisi personalnya tentang album-album apa aja yang dia anggap bagus. Pembahasannya juga mendalam. Banyak sisi teknikal rap yang dia bahas, seperti: flow, cadence, beat, multisyllable dan lain-lain yang mungkin bagi awam bakal gak ngerti kalau engga googling dulu.

Sisi personalnya itu lah yang aing suka. Subjektivitasnya kental sekali. “Bahaya”nya bagi awam kayak gue ini adalah lo bakal mudah untuk mengamini apa yang dia sebut bagus mengingat dia itu memang God di kancah hiphop underground endonesa ini. Tapi kembali lagi ke masalah selera sih. Kadang ada yang emang menurut gue juga enakeun semacam lagu Essential nya Killah Priest atau White Nigger nya Ill Bill. Oiya aing gak dengerin satu album full. Alhamdulillahnya si Ucok ini suka ngasih rekomendasi lagu apa aja yang pantas didenger untuk first listener. Kadang ditambah juga snippet lirik yang menurut dia asoy (seringnya sih kalau rimanya bagus). Thanks to the internet. Hari ini gampang banget nyari album. Spotify siap membantu walau ada juga sih yang ga ada. Kalau masalah lirik, genius.com siap diandalkan.

Gue jadi ngerti kenapa album Nas yang Illmatic adalah magnum opus. Ucok sering jadiin album itu pembanding bagi rapper-rapper muda yang ngeluarin album bagus. Aing juga ngerti kenapa Eminem itu lirikalnya bagus, ini juga sering dijadiin pembanding buat rapper-rapper yang lirikalnya bagus juga. Meski, kalau Ucok ngebahas Eminem mah aing suka rada sakit hati karena memang di rentang 2007 – 2017 gak ada album Em yang dianggap bagus. Aing rada senyum ketika ada album Eminem yang sama Ucok hanya dimasukin honorable mentions untuk album Mashall Matters 2. Ternyata idola aing satu ini gak bener-bener mati. Rakim juga sering disebut-sebut sebagai orang yang merubah tatanan dunia ngerap.

Jujur aing rada-rada bosen baca ulasan-ulasan album dari musisi yang aing gak kenal sama sekali. Untungnya saja, Ucok juga nyelipin tulisan-tulisannya yang berhubungan dengan Hip-hop. Dari mulai sejarah hiphop yang dimulai dari sebuah pesta taman di New York, rilisan-rilisan fisik era awal, tutupnya toko Fat Beats yang punya peran penting bagi penualan album fisik, penjarahan yang malah menyebarluaskan hiphop, pengalamannya “manggung” sama Public Enemy di Jakarta, kekecewaannya pada beberapa rapper yang menurut dia berubah jadi buruk (anying Ice Cube disebut memburuk euy, padahal aing masih suka dengerin Gangsta Rap Made Me Do It dan It Was A Good Day), hingga obituari bagi penggiat hiphop yang sudah meninggal. Itu semua teh ya jadi semacam informasi yang asik karena, lagi-lagi, dibawakan secara personal. Jadi gak kaku kayak lagi baca majalah.

Buku ini juga ngerubah pandangan saya tentang orang-orang yang saya kira ngerapnya itu ga bagus semacam RZA yang saya cuman tau dia di lagu Carry It nya Travis Barker bersama Raekwon dan Tom Morello. Apalagi saya memandang si eta teh konyol di film absurd yang dia sutradai sekaligus jadi aktornya juga, The Man with the Iron Fists. Jadi keliatan keren siah di buku ini mah. Begitu juga dengan Method Man yang terakhir saya liat di video klipnya CL yang Lifted (ternyata CL teh biting liriknya Method Man), dan di film komedi bersama Kevin Hart yang berjudul Soul Plane. Ternyata dia teh keren ajig! gak sekonyol yang aing kira.

Cocok siah buku ini mah bagi para rapper buat nambah referensi lagu-lagu hiphop bagus ala Morgue Vanguard. Gak heran sih Homicide, Bars of Death dan album Demi Masa yang digarap sama Doyz itu bagus-bagus. Dengerin albumnya aja banyak pisan si Ucok teh.

Tapi tetep, balik lagi ke selera akhirnya mah. Da ada aja yang kata saya mah gak enakeun. Aing masih gak ngerti sama lagu-lagunya Ka. Sok aja dengerin. Gak nyampe buat aing mah euy.

Akhirnya aing nobatkan Killah Priest jadi masuk jajaran rapper kesukaan saya bersama Eminem, Rakim, Ice Cube dan Dead Prez (M-1 dan stic.man).