[Book Review] Jalan Hidayah Yana Umar | Kisah hijrah yang renyah

20181004_123708

Jalan Hidayah Yana Umar
Cetakan Pertama, Agustus 2018

Penulis: Tasdiqiya Team
Penerbit: Famous Publisher
Bahasa: Indonesia
Halaman: x + 118 halaman
Harga: Rp 30.000,-
ISBN: 978-602-51810-1-6
Rating: 8/10


“Dilan, kamu enggak bakalan kuat jadi budak bangor. Berat! Biar aku sajalah yang mengalaminya.” – Yana Umar (Halaman 31)

Cerita perjalanan hijrah emang lagi banyak belakangan ini gegara sosmed yang memang edan-edanan. Mungkin nama Yana Umar atau Yana Bo’ol ini tidak seterkenal Nikita Mirzani yang juga hijrah. Tapi saya yakinlah orang Jawa Barat, urang Sunda, apalagi yang suka Persib, Bobotoh Maung Bandung, pasti sudah tidak asing lagi dengan Sang Dirigen. Namanya tidak jarang dijejerkan dengan para dedengkot bobotoh yang lain seperti Ayi Beutik (Almarhum) dan Heru Joko.

Kenapa saya beli buku ini? Waduh, seperti biasa, saya mah belum tau kalau ternyata buku ini ada. Pas saya iseng ke rak best seller, ada buku ini di simpan di pojok kiri atas. Pas saya baca judulnya, anjis, ini harus saya beli nih. Saya lihat bandrol harganya, anjis, murah. Cocok! Gak pake pikir panjang saya langsung bawa buku ini beserta dua buku yang lain ke meja kasir.

Sebagai seseorang yang pernah menggilai Persib (kalau sekarang mah aku udah biasa aja, tapi ikut seneng kalau Persib menang), aku tahu siapa itu Yana Umar. Nama yang legendaris diantara bobotoh Persib. Aku tahu kabar dia hijrah sudah cukup lama dan sempat nonton beberapa video di Youtube tentang hijrah beliau. Aku kagum sih. Orang-orang yang hijrah itu keren, kata saya mah.

Nah, sekarang nemuin bukunya. Anjis. Ini harus dibaca nih. Tapi di sampul depan kok gak ditulis siapa penulisnya ya? Yana Umar sendiri kah? Ah bodo ah, yang penting saya pengen tau kenapa dia mau hijrah.

Awal membaca, pembaca akan disuguhi “ceramah” tentang hidayah oleh Emsoe Abdurrahman di bab pengantar. Siapa dia? Ga tau saya juga. Pokoknya pengantar ini mah formal bak buku-buku keagamaan.

Pas masuk bab berikutnya. Edan. Mulai terasa rasa personalnya.

Dituturkan dengan sudut pandang orang pertama yang berarti memberi kesan Kang Yana sendiri yang bercerita. Tapi kok Kang Yana gak ditulis sebagai penulis ya?

Pada halaman informasi buku pun tidak ada, hanya ditulis oleh Tasdiqiya Team. Oh, mungkin Kang Yana bercerita tentang proses hijrahnya lalu Tasdiqiya Team menerjemahkannya dalam bentuk buku. Mungkin begitu. Apalgi ketika foto-foto yang dicantumkan memang koleksi milik Kang Yana sendiri.

Tapi walaupun begitu, ini enakeun kok. Pas saya baca, saya ngerasanya Kang Yana lagi ngobrol. Santai pisan. Diksi yang sederhana. Juga ditambah kata-kata atau kalimat berbahasa Sunda yang bikin kesan dekat. Sayangnya, gak semua kalimat Sunda itu ada terjemahannya. Kasian atuh euy yang gak ngerti bahasa Sunda.

Jadi, intisari buku ini mah tentang Kang Yana sang bobotoh militan yang jauh dari agama mendapat hidayah melalui mimpi kiamat. Anjis, mimpi kiamat coy! Horor parah men.

Namun cerita hijrah Kang Yana tidak sehoror mimpinya. Malah lucu. Sebagai contoh: diceritakan Kang Yana yang belum pernah adzan seumur hidupnya, ingin melakukan adzan shubuh. Saking inginnya dia adzan sambil baca teks.

Seru lah pokoknya. Cerita-ceritanya, menurut saya, cukup bisa bikin orang begajulan parah termotivasi untuk berubah jadi baik. Kasarnya gini: “Aing wae nu bangor parah bisa hijrah, maenya maneh henteu?”

Nah, aku sempat meneteskan air mata ketika sampai di cerita Kang Yana ke tanah suci. Dia sungguh merendah. Katanya, dia itu dipanggil Allah ke tanah suci bukan karena amalnya, namun karena Allah kasihan padanya yang dosanya sudah terlalu banyak. Masya Allah.

Overall, untuk kontennya asik sih. Bukunya tipis dengan dimensi yang juga kecil. Ditambah dengan foto-foto koleksi Kang Yana sebagai pemanis. Sekali duduk tamat lah ini.

Cocok buat kamu yang ingin baca buku agama yang asoy, ringan, tapi menggugah. Untuk para bobotoh juga, apalagi yang sering liat Kang Yana ngasih instruksi di stadion, ini cocok nih, biar gak jadi suporter barbar. Biar gak ada lagi korban meninggal gara-gara fanatisme buta. Hayu ah urang turutan, barudak!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s