[Book Review] I Am Sarahza

20180904_151128.jpg

I AM SARAHZA: Di Mana ada Harapan, Di Situ ada Kehidupan
Cetakan pertama, April 2018
Cetakan kedua, Juni 2018
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: Republika
Bahasa: Indonesia
Halaman: vi + 370 halaman
Dimensi: 13.5 x 20.5 cm
Harga: Rp. 75000,-
Rating: 7/10

“Kegagalan memang tak ada gunanya diratapi, kegagalan lebih menyenangkan untuk dicandai” – Sarahza (I Am Sarahza, hal. 84)

Seperti biasa, kalau aku sudah mulai bingung mau beli buku apa, aku pergi ke rak best seller. Di situlah aku nemu buku ini. Selain karena best seller, aku sudah pernah baca buku karya sepasang suami-istri ini sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa. Aku cukup menikmatinya pada saat itu. Walau pada akhirnya aku jadi ngebanding-bandingin sama The Da Vinci Code – dan pemenangnya … tentulah The Da Vinci Code, menurutku.

I Am Sarahza, sejujurnya aku bener-bener gak tau ini novel bakal nyeritain apa. Gambar jabang bayi pada sampul pun gak ngejentikin apapun ke otakku. Mungkin penyuka buku yang lain tau kalau Hanum itu baru dikaruniai anak, sedangkan aku itu termasuk penyuka buku yang rada-rada masa bodo sama kehidupan penulisnya. Kecuali aku memang benar-benar suka sama penulisnya, dalam artian aku bukan hanya suka karya-karyanya, tetapi juga apa yang terjadi dibalik karyanya – the idea. Sedangkan sikapku pada karya Hanum dan Rangga itu biasa aja.

Ok, jadi novel ini bercerita tentang pengalaman Hanum dan Rangga dalam usaha bikin dede bayi. Usahanya macem-macem. Banyak istilah kedokteran yang aku susah ngingetnya. Pokoknya seperti terapi sampai bayi tabung. Memoar lah ya, atau lebih tepatnya mah, based on true story.

Aku heran kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering baca memoar. Kali ini juga, walaupun bentuknya itu novel.

Karena bentuknya novel, ada sebuah pendramatisiran (bener gak sih? ada gak sih kata ini? Ah bodo ah), dari sebuah kejadian nyata yang mereka alami. Walaupun sebenernya menurut aku mah hidup itu udah gak perlu didramatisir, da udah terlalu drama hidup ini teh. But anyway, this is novel. Gimana we caranya mah biar asoy buat dibaca. Tapi gak lebay, masih tetap pada koridor realisme.

Tapi ada satu nih yang menghancurkan rasa realisme itu: Sarahza.

Jadi, novel ini menggunakan tiga sudut pandang berdeda. Sudut pandang Hanum, Rangga, dan Sarahza. Digunakan bergantian. Itu memperkaya rasa, karena ketiga sudut pandang itu memakai sudut pandang orang pertama. Jadi, pembaca bisa merasakan gimana stressnya Hanum sebagai perempuan ketika mengalami kegagalan demi kegagalan kehamilan, dan heroiknya Rangga sebagai seorang suami. Itu keren, yang bikin saya rada ngernyitin dahi itu Sarahza.

Siapakah itu Sarahza? Dia adalah anaknya Hanum dan Rangga. Anaknya? Bukannya ini cerita tentang pengen punya anak? Iya betul, ini sudut pandang Sarahza yang masih dalam bentuk roh, settingnya di Lauhul Mahfuzh. Masih tetap menggunakan sudut pandang orang pertama tapi dia ini seolah-olah omniscient. Cmon! Sarahza itu roh, bukan tuhan. Kenapa harus dibikin gini? Jadi dia itu di Lauhul Mahfuzh seakan lagi nonton layar tancep yang nayangin perjalanan hidup keluarganya untuk narik dia ke dunia. Apa benar seperti itu? Cmon man! Ini soalnya based on true story gitu, jadi kalau ditambahin sesuatu yang rada ” tidak kasat mata” jadinya … ahhhhh… kenapa gak dibikin bener-bener fiksi aja gitu. Tokohnya jangan dinamain Hanum, Rangga, Sarahza, dan Amin Rais yang benar-benar ada di bumi ini. Udin kek, Naruto kek, Black Widow kek. Kan jadinya canggung. Itu menurutku ya, masalah selera sih.

I am a moslem. I believe there is Lauhul Mahfuzh, sebuah “kitab” takdir Allah yang apapun tertulis di dalamnya pasti akan terjadi. Tapi aing gak pernah ngebayangin Lauhul Mahfuzh itu bakal ada layar tancepnya.

Itu doang sih yang ngganjel. Soalnya ini jadi kayak di dunia antara. Antara fiksi dan realita. Labil gitu.

Tapi novel ini bagus, flownya santai. Walaupun konfliknya itu gitu-gitu doang, gagal hamil – coba lagi – gagal hamil – coba lagi, gak bikin bosen tuh bacanya. Soalnya, apa yang Hanum dan Rangga lakukan dalam menyikapi persoalan itulah yang bikin ceritanya jadi menarik. Ada unsur dakwahnya juga. Lumayanlah jadi ngingetin saya untuk kembali ke jalan yang benar.

By the way, kayaknya ini bakalan menarik untuk dibaca sama orang-orang yang sudah menikah. Apalagi untuk mereka yang bakalan punya anak, atau sudah punya anak. Soalnya referensinya bakal ngeklik sama penulisnya. Jadi bakal ngerti tuh apa yang Hanum dan Rangga alamin.

Kalau aku kan jomblo brengsek, jadi belum ngerti gimana sih rasanya nunggu anak lahir, gimana sih rasanya jagain istri yang lagi hamil, gimana sih rasanya nemenin istri melahirkan. Aku gak punya referensi itu.

Soalnya, bagiku kenikmatan membaca buku itu adalah tentang ngekliknya referensi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s