[Book Review] Hidup Sederhana

Sampul depan "Hidup Sederhana"

 

“Belajarlah dari kegagalan dan kemudian cobalah lagi, tetapi jangan larut dalam perasaan kecewa”

Desi Anwar yang saya tahu itu adalah penyiar berita di RCTI. Sewaktu saya kecil saya suka liat dia di tivi, walaupun saya gak ngerti dia ngomong apa. Toh itu karena aku masih kecil tea. Yang aku tahu, Desi itu kalau ngomong bibirnya susah mangap macam Ariel Noah lagi nyanyi.

Setelah saya melahap kisah hidup dan pemikiran Haruki Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running yang ditulis sendiri semacam otobiografi, saya jadi rada ketagihan buat baca kisah hidup orang. Ya, katanya kan memang orang itu tertarik pada orang lagi. Aku sekarang sedang tertarik akan hal itu. Kurang lebih begitu alasanku membeli buku Hidup Sederhana.

Seperti yang ditulis pada sampul belakang, buku ini adalah kumpulan tulisan Desi Anwar tentang perenungan dan pengamatannya akan hidup.

Dari buku ini saya bisa lebih mengenal Desi lebih dalam karena memang semua tulisannya ini berdasarkan apa yang dia alami. Maka, sering dia bercerita tentang pengalamannya dari masa kecil sampai dewasa sebagai sumber dari perenungannya. Tema-tema yang diangkat pun tidak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari seperti tentang beristirahat setelah bekerja, pertemanan, cinta kasih, serta kedirian.

Dari semua tema-tema yang diangkat, Desi mampu meraciknya dengan sederhana dan itu membuatku tahu bahwa ternyata Desi Anwar itu bisa nulis. Dia pandai memilih diksi sehingga apa yang dia ceritakan mudah dicerna. Maka, di halaman-halaman awal aku menikmati sekali proses membaca buku ini. Apalagi ketika dia bercerita di bab Meditasi. Ada persamaan yang kutemukan tentang apa yang di bahas di bab itu. Karena aku sebelumnya pernah mendengar ceramah Aa Gym tentang kebaikan yang terkandung dalam empat hal menurut Sahl bin Abdillah*: lapar (puasa), diam, menyendiri, dan bangung malam (tahajud). Semua aku temukan juga pada pengalaman Desi belajar meditasi di sebuah vihara. Sampai bab itu pun aku sudah bisa sedikit menyimpulkan bahwa konsep yang ingin ditawarkan dari hidup sederhana ini adalah sebuah ketenangan.

Lagi-lagi yang membuat buku ini nyaman dibaca adalah pembahasan yang tidak terlalu mendalam tetapi Desi jeli dalam melihat sesuatu. Sebagai contoh, pada bab Sahabat, Desi menjelaskan mengapa orang lebih nyaman dengan sahabatnya daripada dengan anggota keluarganya. Menurutnya, persahabatan itu lahir dari cinta yang tulus tanpa ikatan apapun, tetapi dengan anggota keluarga ada ikatan yang tak bisa terelakkan yaitu pertalian darah. Dan banyak hal-hal menarik lain yang bisa ditemukan dari buku ini, yang bisa bikin pembaca tersadar bahwa diri terkoneksi dengan keadaan sekitar.

Tapi nih ya, ini masalah selera sih. Aku agak bosan ketika di tengah-tengah buku. Mungkin karena pembahasannya sudah umum dan banyak dibahas di buku-buku self-help. Selain itu paragraf yang sengaja dicetak tebal dan di-stablo-in, bagiku tidak selalu merupakan bagian yang penting / menarik. Sering aku menemukan sendiri bagian menarik versi diriku sendiri di luar paragraf-paragraf yang dicetak tebal itu.

Penutup buku ini adalah bab yang paling kusuka, Carpe Diem. Aku memang selalu suka pembahasan tentang penguasaan hari. Dan Desi bisa mengeksekusinya dengan baik.

Jadi intinya, aku baca buku ini bagai naik roller coaster, naik turun gitu kayak dinamika kehidupan. Ini cocok sih buat kamu yang mau nyoba masuk ke buku-buku filsafat. Anggap saja ini sebagai for dummies bagi buku-buku filsafat yang njelimet itu.

Ciao,


Hidup Sederhana
Penulis: Desi Anwar
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 288 halaman
ISBN: 978-602-03-0620-9
Cetakan pertama, July 2014
Cetakan kelima, Maret 2017
Harga: Rp 98.000,-
Rating: 7/10

Iklan

7 pemikiran pada “[Book Review] Hidup Sederhana

  1. Belum baca bukunya, tapi bicara Desi Anwar jadi ingat pertama dia muncul di TV dulu (‘Seputar Indonesia’ di RCTI bersama Helmi Johannes, kalau tak salah). Amburadul (mungkin grogi pengalaman pertama). Tapi besoknya, Wow! Berubah 180 derajat. Cuma orang yang sangat cerdas bisa begitu. Desi, juga Inke Maris dan Rosianna Silalahi, adalah satu dari sedikit pewawancara Indonesia yang saya suka. 🍸

    Oya, waktu temen nikah dulu, pernah ketemu Desi, sempet saling lirik-lirikan, tapi ya udah gitu tok hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s